LAPORAN
HASIL STUDI LAPANGAN
DI
BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GANGGUAN AKIBAT KEKURANGAN IODIUM (BP2GAKI),
MAGELANG
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Salah satu masalah kesehatan masyarakat
yang dapat menghambat peningkatan mutu sumber daya manusia Indonesia adalah
Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI). Upaya pencegahan dan penanggulangan
GAKI, yaitu dengan memberikan unsur yodium telah lama dilakukan oleh
pemerintah. Yodium
merupakan zat essensial bagi tubuh, karena merupakan komponen dari Hormon
tiroksin. Terdapat dua ikatan organik yang menunjukkan bioaktifitas hormon ini,
ialah trijodotyronin T3 dan Tetrajodotyronin T4, yang terakhir juga disebut
juga Tiroksin. (Sediaoetama, 2006). Dalam tubuh terkandung sekitar 25 mg yodium
yang tersebar dalam semua jaringan tubuh, kandungannya yang tinggi yaitu
sekitar sepertiganya terdapat dalam kelenjar tiroid dan yang relatif lebih
tinggi dari itu ialah pada ovari, otot, dan darah.
Faktor kandungan yodium lahan suatu
tempat sangat penting, karena akan menentukan kandungan yodium pada air dan
bahan makanan yang tumbuh di tempat tersebut. Suatu wilayah menjadi kekurangan
yodium disebabkan lapisan humus tanah sebagai tempat menetapnya yodium sudah
tidak ada, karena akibat erosi tanah secara terus menerus atau akibat
pembakaran hutan yang mengakibatkan yodium dalam tanah hilang (Djokomoeljanto,
2002). Sumber utama iodium yaitu laut, makanan laut berupa
ikan, udang dan kerang serta ganggang laut merupakan sumber iodium yang baik.
Di daerah pantai, air dan tanah mengandung banyak iodium sehingga tanaman yang
tumbuh di daerah pantai mengandung cukup banyak iodium. (Sunita, 2010).
Jika kekurangan iodium,
konsentrasi hormon tiroid menurun dan hormone perangsang tiroid atau TSH
meningkat agar kelenjar tiroid mampu menyerap lebih banyak iodium. Bila
kekurangan berlanjut, sel kelenjar tiroid membesar dalam usaha meningkatkan
pengambilan iodium oleh kelenjar tersebut. (Sunita, 2010).
Salah satu dampak yang disebabkan karena
kekurangan yodium adalah keterbelangan mental atau sindrom down. Sindrom Down
merupakan salah satu kelainan kromosom dengan insiden 0,3 – 3,4 dalam 1000
kelahiran pada beberapa bagian di dunia (Wahab, 2006) dan
merupakan penyebab umum dari 25-30% retardasi mental di dunia (Wright, 2007).
Angka prevalensi yang masih tinggi mengakibatkan
pentingnya penelitian dan pemantauan yang lebih mendalam terhadap masalah
ini. Sehingga dapat diketahui cara pencegahan dan penanggulangannya secara
tepat dan menurunkan angka prevalensi GAKI di wilayah Indonesia. Masalah
GAKI memerlukan
perhatian khusus, untuk itu keberadaan lembaga BP2 GAKI sangat diperlukan. BP2
GAKI Magelang adalah Unit Pelaksanaan Teknis dari Badan Litbangkes yang
ditetapkan dengan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor: 575/MENKES/SK/IV/2000 yang
kemudian disempurnakan dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor: 1351/MENKES/PER/IX/2005
tanggal 14 September 2005, dan terakhir dirubah kembali dengan Peraturan
Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor: 2350/MENKES/PER/XI/2011
tanggal 22 November 2011 merupakan lembaga dengan kegiatan utama melakukan
penelitian dan pengembangan untuk menunjang upaya penanggulangan masalah GAKI
(BP2GAKI, 2012).
B.
Tujuan
a)
Tujuan Umum
Praktikum
ini bertujuan agar mahasiswa dapat mengetahui secara langsung penderita GAKY di
Balai Penelitian dan Pengembangan GAKY yang berada di magelang.
b)
Tujuan Khusus
Praktikum
ini bertujuan untuk mengetahui permasalahan
GAKY yang meliputi klasifikasi, faktor resiko terjadinya GAKY seperti faktor
genetik, ekonomi, lingkungan, pengetahuan dan perilaku komsumsi makanan yang
mengandung yodium dan makanan yang mengandung zat goitrogenik, serta cara
mendiagnosis, pencegahan dan cara penanganannya di BP2 GAKY.
C.
Manfaat
a)
Bagi masyarakat :
Menambah pengetahuan masyarakat mengenai GAKY,
sehingga mereka dapat lebih memahami pentingnya yodium bagi kesehatan dan
menggunakan garam beryodium untuk memasak. Hal tersebut dapat mengurangi angka
prevalensi GAKY di masyarakat.
b)
Bagi mahasiswa :
Melalui praktikum ini mahasiswa dapat mengetahui
permasalahan GAKY yang ada di masyarakat, faktor
risiko, pencegahan dan cara penanggulangannya. Sehingga dapat ikut
berpartisipasi untuk meminimalkan masalah GAKY yang ada di masyarakat.
c)
Bagi Jurusan Kesehatan Masyarakat :
Meningkatnya pengetahuan mahasiswa mengenai GAKY akan
memberi kesempatan mahsiswa untuk terjun ke lapangan dengan pengetahuan yang
mencukupi, sehingga
mahasiswa dapat membantu jurusan kesehatan masyarakat dalam melakukan
pengabdian pada masyarakat.
d) Bagi
Institusi BP2GAKI :
Memberikan tambahan referensi
informasi tentang GAKI bagi peneliti-peneliti lain yang berkunjung ke BP2GAKI
sehingga bisa memudahkan peneliti-peneliti lain dalam melakukan observasi.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Iodium
Iodium merupakan zat gizi essensial bagi tubuh, karena merupakan
komponen dari hormon thyroxin. Terdapat
dua ikatan organik yang menunjukkan bioaktivitas hormon ini, yaitu trijodotyronin (T3), tetrajodotyronin (T4) atau thyroxin. Iodium dikonsentrasikan di
dalam kelenjar gondok (glandula thyroxin) untuk dipergunakan dalam sintesa
hormon thyroxin. Hormon ini ditimbun
dalam folikel kelenjar gondok, terkonjugasi dengan protein (globulin) yang
disebut thyroglobulin yang merupakan bentuk yodium yang disimpan dalam tubuh,
apabila diperlukan, thyroglobulin
dipecah dan akan melepaskan hormon
thyroxin yang dikeluarkan oleh folikel kelenjar ke dalam aliran darah
(Yuastika, 1995).
Iodium ada di dalam tubuh dalam jumlah sangat sedikit, yaitu sebanyak
kurang lebih 0,00004% dari berat badan atau 15-23 mg. Sekitar 75% dari iodium
ini ada di dalam kelenjar tiroid, yang digunakan untuk mensintesis hormone tiroksin, tetraiodotironin (T4), triiodotironin (T3). Hormon-hormon ini diperlukan untuk
pertumbuhan normal, perkembangan fisik dan mental hewan dan manusia. Sisa
iodium ada di dalam jaringan lain, terutama di dalam kelenjar - kelenjar ludah,
payudara, dan lambung serta di dalam ginjal. Di dalam darah yodium terdapat
dalam bentuk iodium bebas atau terikat dengan protein (Protein-Bound
Iodine/PBI). (Sunita, 2010).
Yodium terdapat dalam makanan dalam bentuk
yodide, yang secara umum berikatan dengan asam amino. Yodide diserap usus
dengan cepat dan diasimilasi oleh kelenjar Tiroid untuk digunakan dalam
produksi hormon Tiroid. Yodium merupakan bagian dari asam amino sebagai
tyrosine yang tidak banyak diserap ( Tom Brody, 1994). Anjuran
asupan yodium setiap hari di dalam makanan menurut Arisman (2004):
a) Dosis 50
µg/hari untuk kisaran usia 0-12 Bulan.
b) Dosis 90
µg/hari untuk kisaran usia 1-6 tahun.
c) Dosis 120
µg/hari untuk kisaran usia 7-12 tahun.
d) Dosis 150
µg/hari untuk kisaran usia 12-Dewasa.
e) Dosis 200
µg/hari untuk kisaran Ibu hamil dan menyusui.
B. Sumber Iodium
Yodium dapat
diperoleh dari berbagai jenis pangan dan kandungannya berbeda-beda tergantung
asal jenis pangan tersebut dihasilkan. Kandungan yodium pada buah dan sayur tergantung pada jenis tanah.
Kandungan yodium pada
jaringan hewan serta produk susu tergantung pada kandungan yodium pada pakan ternaknya. Pangan asal laut merupakan sumber
yodium alamiah. (Picauly, 2002).
Laut merupakan sumber utama iodium. Oleh karena
itu, makanan laut berupa ikan, udang, dan kerang serta ganggang laut merupakan
sumber iodium yang baik. Di daerah pantai, air dan tanah mengandung banyak
iodium sehingga tanaman yang tumbuh di daerah pantai mengandung cukup banyak
iodium. Semakin jauh tanah itu dari pantai semakin sedikit pula kandungan
iodiumnya, sehingga tanaman yang tumbuh di daerah tersebut termasuk rumput yang
dimakan hewan sedikit sekali atau tidak engandung iodium. Salah satu cara
penanggulangan kekurangan iodium ialah melalui fortifikasi garam dapur dengan
iodium. Fortifikasi garam dengan iodium sudah diwajibkan di Indonesia. (Sunita,
2010).
Garam beryodium adalah garam natrium
Clorida yang diproduksi melalui proses Yodisasi yang memenuhi Standart Nasional
indonesia (SNI), mengandung yodium antara 30-80 ppm untuk konsumsi manusia atau
ternak, pengasinan, ikan dan bahan penolong industri pangan kecuali untuk
pemboran minyak, Chlor Alkali Plan (CAP) dan industri kertas pulp (Depkes RI,
2000).
a)
Persyaratan garam sehat
1.
Garam sehat adalah garam konsumsi yang telah
difortifikasi dengan yodium yang cukup untuk kebutuhan tubuh yang mengandung
kadar yodium antara 30-40 ppm dan kandungan air ≤ 5%.
2.
Garam Yodium diharuskan dikonsumsi seluruh penduduk
baik di daerah endemik maupun daerah bukan endemic
3.
Konsumsi garam yodium rata-rata per orang 10 gr per
hari dan kebutuhan ion yodium sebesar 150-200 mikrogram per orang per hari bila
konsumsi rata-rata.
b) Pengelolaan
Garam Sehat
1.
Penyimpanan
Garam yodium perlu disimpan di
bejana atau wadah tertutup, Tidak kena cahaya, Tidak dekat dengan tempat lembab
air, hal ini untuk menghindari penurunan kadar yodium dan meningkatkan kadar
air, karena kadar yodium menurun bila terkena panas dan kadar air yang tinggal
akan melekatkan yodium. (Palupi, 2008).
Soehardjo (1990) mengatakan bahwa dengan mengkonsumsi pangan
yang kaya yodium dapat menekan atau bahkan mengurangi besarnya prevalensi
gondok. Rata-rata kandungan yodium dalam bahan makanan antara lain :
ikan tawar 30 mg, ikan laut 832 mg, kerang 798 mg, daging 50 mg, susu 47
mg, telur 93 mg, gandum 47 mg, buah-buahan 18 mg, kacang-kacangan 30 mg dan
sayuran 29 mg.
C.
Kebutuhan Iodium
Yodium
merupakan zat essensial bagi tubuh, karena merupakan komponen dari Hormon
tiroksin. Terdapat dua ikatan organik yang menunjukkan bioaktifitas hormon ini,
ialah trijodotyronin T3 dan Tetrajodotyronin T4, yang terakhir juga disebut
juga Tiroksin. (Sediaoetama, 2006). Anjuran Asupan Yodium setiap hari di dalam
makanan menurut Arisman (2004) adalah :
1.
Dosis
50 µg/hari untuk kisaran usia 0-12 Bulan.
2.
Dosis 90 µg/hari untuk kisaran usia 1-6 tahun.
3. Dosis 120 µg/hari untuk
kisaran usia 7-12 tahun.
4. Dosis 150 µg/hari untuk
kisaran usia 12-Dewasa.
5. Dosis 200 µg/hari untuk
kisaran Ibu hamil dan menyusui.
Khusus bagi kelompok ibu hamil tambahan tersebut sebagian
dapat dipergunakan untuk keperluan aktivitas kelenjar tiroid dan sebagiannya
lagi untuk pertumbuhan dan perkembangan janin khususnya perkembangan
otak. Bagi ibu hamil yang mengkonsumsi yodium tidak mencukupi
kebutuhan maka bayi atau janin yang dikandung akan mengalami gangguan
perkembangan otak (berat otak berkurang), gangguan perkembangan fetus dan pasca
lahir, kematian perinatal (abortus) meningkat, kemudian setelah bayi dilahirkan
mempunyai berat lahir rendah (BBLR) dan terdapat gangguan pertumbuhan tengkorak
serta perkembangan skelet, sedangkan bagi tubuh ibu hamil akan mengalami
gangguan aktivitas kelenjar tiroid. Pada kondisi ini tubuh akan mengalami
penyesuaian yang pada akhirnya akan mengalami pembesaran kelenjar tiroid yang
dikenal dengan sebutan gondok (Picauly, 2002).
D.
GAKY
Gangguan akibat kekurangan yodium adalah
sekumpulan gajala yang dapat ditimbulkan karena tubuh seseorang kekurangan
unsur yodium secara terus-menerus dalam waktu cukup lama. (DepKes RI, 2000). Selain itu, menurut
Supariasa (2001), Gangguan akibat kekurangan yodium adalah rangkaian kekurangan
yodium pada tumbuh kembang manusia, Sprektum seluruhnya terdiri dari gondok
dalam berbagai stadium, kretin endemik yang ditandai terutama oleh gangguan
mental, gangguan pendengaran, gangguan pada anak dan dewasa, sering dengan
kadar hormon rendah angka lahir dan kematian janin meningkat.
Gondok
adalah pembesaran kelenjar timid yang melebihi normal. Penduduk yang kekurangan iodium
tidak dapat membuat cukup hormon tiroid. Untuk mencukupi kebutuhan hormon tiroid, kelenjar hipofisis
membuat hormon yang disebut thyroid stimulating hormone (TSI-I) untuk merangsang kelenjar tiroid
supaya lebih aktif menghasilkan hormon tiroid. Penambahan hormon TSH merupakan
proses adaptasi yang normal, akan tetapi kondisi yang kronis mengakibatkan gondok. Penduduk yang menderita gondok
menandakan bahwa mereka mengalami kekurangan iodium. (Rusiawati dkk, 1993).
Kretin merupakan akibat yang lebih
berat daripada hipotiroidi yang terjadi selama bayi masih dalam kandungan atau
permulaan kelahiran. Kretin mengakibatkan keterbelakangan mental yang tidak
dapat disembuhkan. Selain itu terdapat gejala seperti buta, tuli dan gangguan
dalam pertumbuhan otot. Seperti kretin disertai gondok (Rusiawati dkk, 1993).
Pengertian GAKI yang lain menurut Thesa
(2009), Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (Iodine Deficiency Disorder) adalah
gangguan tubuh yang disebabkan oleh kekurangan iodium sehingga tubuh tidak
dapat menghasilkan hormon tiroid.
Kodyat
(1996) mengatakan bahwa pada umumnya masalah ini lebih banyak terjadi di daerah
pegunungan dimana makanan yang dikonsumsinya sangat tergantung dari produksi
makanan yang berasal dari tanaman setempat yang tumbuh pada kondisi tanah
dengan kadar yodium rendah.
GAKI
mengakibatkan kematian anak. Anak-anak yang menderita Gaki kurang memiliki daya
tahan tubuh terhadap infeksi dan derajat nutrisinya lebih rendah. Ibu hamil
yang memperoleh iodium melahirkan anak yang lebih berat, sehat dan kemungkinan
hidup lebih besar daripada ibu yang tidak memperoleh iodium. Ibu hamil yang
memperoleh iodium melahirkan anak yang lebih besar kemungkinannya mencapai umur
15 tahun daripada anak dari ibu yang tidak memperoleh iodium (Dunn & Van
Der Haar 1990).
a. Defisiensi Akibat
Kekurangan Iodium
Menurut laporan
WHA (World Health
Assembly, 1994), sekitar 1800 juta
orang didunia beresiko mengalami defisiensi karena keliru bermuki dikawasan
yang miskin yodium. Dari jumlah tersebut, sektar 656 juta orangtelah
menampakkan tanda-tanda kekurangan yodium ; 43 juta menderita rusak mental
dan 11,2 juta orang tampak jelas sebagai kretin. Di Asia Tenggara kira-kira 600
juta orang membangun keluarga di wilayah yang miskin yodium danmengakibatkan
lebih kuang 170 juta orang menderita gondok (WHO regional Office for South-East Asia, 2000). Defisiensi
iodium merupakan sebab pokok terjadinya masalah GAKI. Hal ini disebabkan karena
kelenjar tiroid melakukan proses adaptasi fisiologis terhadap kekurangan unsur
iodium dalam makanan dan minuman yang dikonsumsinya (Djokomoeldjanto, 1994).
1. Defisiensi
pada janin
Pengaruh
utama defisiensi yodium pada janin ialah kretinisme endemis. Gejala khas
kretinisme terbagi menjadi dua jenis, yaitu jenis saraf yang menampilkan tanda
dan gejala seperti kemunduran mental, bisu-tuli dan diplegia spastik. Jenis
kedua yaitu bentuk miksedema yang memperlihatkan tanda hipotiroidisme dan
dwarfisme (Arisman, 2004).
2. Defisiensi
pada bayi baru lahir.
Selain
berpengaruh pada angka kematian, kekurangan yang parah dan berlangsung lama
akan mempengaruhi fungsi tiroid bayi yang kemudian mengancam perkembangan otak
secara dini. (Arisman, 2004).
3. Defisiensi
pada anak dan remaja
Kekurangan
yodium pada anak khas terpaut dengan insiden gondok. Angka kejadian gondok
meningkat bersama usia, dan mencapai puncaknya setelah remaja. Prevalensi
gondok pada wanita lebih tinggi daripada lelaki. Total Goitre Rate (TGR) anak
sekolah lazim digunakan sebagai petunjuk dalam perkiraan besaran GAKY
masyarakat suatu daerah. Gangguan pada anak dan remaja akibat kekurangan Yodium
yaitu Gondok, hipoiroidisme Juvenile dan perkembangan fisik terhambat.
(Arisman, 2004).
4. Defisiensi
pada Dewasa
Pada orang
dewasa, kekurangan yodium menyebabakan keadaan lemas dan cepat lelah,
produktifitas dan peran dalam kehidupan sosial rendah (isna, 2009), Gondok dan
penyulit, Hipotiroidisme, Hipertiroidisme diimbas oleh yodium. (Arisman, 2004).
5. Defisiensi
pada ibu hamil
Pada ibu
hamil menyebabkan keguguran spontan, lahir mati dan kematian bayi, mempengaruhi
otak bayi dan kemungkinan menjadi cebol pada saat dewasa nanti. Seorang ibu
yang menderita pembesaran gondok akan melahirkan bayi yang juga menderita
kekurangan yodium. Jika tidak segera diobati, maka pada usia 1 tahun, sudah
akan terjadi pembesaran pada kelenjar gondoknya. (Isna,
2009).
6. Defisiensi
pada semua usia
Bentuk
gangguannya : Kepekaan terhadap radiasi nuklir meningkat (Arisman, 2004).
b. Faktor Penyebab GAKI
1. Faktor Geografi
Pemetaan GAKY Nasional tahun 1996/1998 mencakup semua
kecamatan sehingga memungkinkan untuk mengolah data didasarkan pada letak
geografis yang dikategorikan menjadi dataran tinggi, dataran rendah dan daerah
rawa. Secara geografis dataran dapat dibagi menjadi 3 yaitu: Dataran Tinggi
(Ketinggian di atas 200m), Dataran Rendah (Ketinggian di bawah 200m) dan Daerah
Rawa-rawa (Sama dengan permukaan laut). Djokomoelyanto
(1998) mengemukakan bahwa dataran tinggi atau pegunungan biasanya miskin akan
yodium karena lapisan paling atas dari tanah yang mengandung yodium terkikis dari
waktu ke waktu. Sebaliknya tanah di dataran rendah kemungkinan terkikis lebih
kecil sehingga diduga kandungan yodium masih normal. Di daerah rawa diharapkan
tidak terjadi pengikisan tanah sehingga kadar yodium tanah dan air cukup
tinggi.
2. Faktor Bahan Pangan
Goiterogenik
Faktor
lingkungan yang terpenting adalah agen agen goitrogen. Goitrogen adalah zat
atau bahan yang dapat mengganggu pembentukan hormon tiroid, sehingga dapat
menyebabkan pembesaran kelenjar tiroid (gondok) (Djokomoelyanto, 1998 a).
Terdapat 2 jenis goitrogen yaitu; goitrogen alami dan sintetis. Goitrogen alami
yang paling penting adalah singkong dan kubis. Sedangkan goitrogen sintetis
adalah insektisida, organoklor (DDT, ODD, dan Dieldrin), fungisida dan
antibiotik (tetrasiklin) (Matovinovic, 1998).
·
Pengaruh
Goitrogen Alami
Goitrogen alami
dapat kelompokkan menjadi 3:
1. Kelompok
tiosianat atau senyawa mirip tiosianat yang secara primer menghambat mekanisme
transport aktif iodium ke dalam kelenjar tiroid. Makanan-makanan tinggi tiosianat
adalah singkong, jagung, rebung, ubi jalar dan buncis besar.
2. Kelompok
tiourea, tionamide, tioglicoside, bioflavonoid dan disulfide alifatik. Kelompok
ini bekerja menghambat organifikasi yodium dan penggabungan yodotirosin dalam pembentukan
hormone tiroid aktif. Kelompok ini ditemukan dengan konsentrasi tinggi dalam
bahan makanan seperti: sorgum, kacang-kacangan, bawang merah dan garlic.
3. Kelompok yodida. Senyawa ini bekerja pada proses
proteolisis dan rilis hormone tiroid.
·
Pengaruh Faktor Goitrogen Sintetis.
Goitrogen sintetis adalah goitrogen yang berasal dari produk obat-obatan
seperti obat anti tiroid (thiourasil dan thiourea) atau bahan kimia seperti
insektisida atau pestisida yang sering digunakan petani untuk membunuh hama. Penelitian
yang dilakukan didaerah pantai Karawang (Sukati, 2001), mengamati bahwa petani
tambak bandeng dalam mematikan ikan predator agar tidak mengganggu pertumbuhan
bandeng sering menggunakan obat. Ada 2 macam obat yang biasa digunakan yakni:
thioda dan obat biru. Keduanya banyak mengandung chlor. Ikan kecil yang mati
akibat obat tersebut dikonsumsi oleh masyarakat di sekitar tambak tersebut.
3.
Faktor Zat Gizi Lain
·
Faktor Unsur
Kelumit (Trace Elemen)
Timbulnya gondok endemik tidak hanya disebabkan oleh faktor
geografis dan lingkungan dapat juga disebabkan oleh faktor unsur kelumit
seperti timah hitam (Pb), air raksa (Hg), tembaga (Cu) dan selenium (Se).
Faktor unsur kelumit yang penting adalah unsur selenium (Se). Defisiensi Se
dapat menyebabkan tubuh rentan terhadap masuknya unsur Pb, Hg dan Cu. Asupan
yang berlebih dari Pb dapat menghambat pembentukan hormon tiroid karena Pb akan
membentuk ikatan yang kuat dengan yodium (Wardoyo).
·
Faktor Kurang
Energi Protein (KEP) dan Kurang Vitamin A (KVA).
Untoro mengungkapkan bahwa terdapat kemungkinan
gangguan penyerapan yodium pada penderita KEP sehingga akan memperberat masalah
GAKY di daerah gondok endemik, terutama bila konsumsi yodium terbatas.
Kekurangan vitamin A juga berdampak terhadap metabolisme yodium. Penelitian
Widardo menunjukkan bahwa anak balita yang diberi intervensi Selenium dan
vitamin A terjadi peningkatan status gizi (BB/U, TBAJ) dan status yodium (TSH)
lebih baik dibandingkan dengan anak balita pembanding (kontrol).
c. Spectrum
GAKY
Rangkaian gangguan spektrum kekurangan yodium baik secara fisik maupun
mental sejak dalam kandungan sampai dewasa sangat bervariasi sesuai dengan
tingkat tumbuh kembang manusia. Spektrum GAKY dapat dilihat pada table
Tabel
Spektrum GAKY
|
Tahap
Perkembangan
|
Bentuk Gangguan
|
|
Janin
|
Keguguran
(aborsi)
Lahir mati
Kelainan
kongenital
Kematian
perinatal
Kematian
bayi
Kretinisme
saraf
Kretinisme
miksedema
Kerusakan
psikomotor
|
|
Bayi baru
lahir
|
Gondok
neonates
Hipotiroidisme
neonates
|
|
Anak &
remaja
|
Gondok
Hipotiroidisme
juvenile
Fungsi
mental
Perkembangan
fisik terhambat
|
|
Dewasa
|
Gondok dan
penyulit
Hipotiroidisme
Fungsi
mental
Hipertiroidisme
diimbas oleh yodium
|
|
Semua usia
|
Kepekaan
terhadap radiasi nuklir meningkat
|
(Dikutip
dari: “Trace elements in human nutrition and health”, WHO 1996)
d. Diagnosis GAKY
Tabel Kriteria Keparahan dan
Signifikasi Masalah Kesehatan GAKY
|
Keparahan
|
Gambaran
klinis
|
TGR (%)
|
Rata –
rata kadar urine (µg/L)
|
Prioritas
koreksi
|
||
|
G
|
H
|
K
|
||||
|
Derajat 0
[normal]
|
0
|
0
|
0
|
<5,0
|
≤100
|
-
|
|
Derajat I
[ringan]
|
+
|
0
|
0
|
5,0-19,9
|
50-99
|
Penting
|
|
Derajat II
[sedang]
|
++
|
+
|
0
|
20,0-29,9
|
20-49
|
Segera
|
|
Derajat
III [parah]
|
++
|
+++
|
++
|
≥30,0
|
<20
|
Kritis
|
Keterangan:
0 = tidak
ada; + = ringan; ++ = sedang; +++ = sangat berat
G = goitre;
H = hipotiroidisme; K= kretin
TGR = total
goitre rate
(Sumber: WHO
1994)
e. Parameter GAKY
1. TGR (Total
Goiter Rate)
Total goiter
rate atau gondok dapat diukur dengan cara palpasi. Pengukuran masa tiroid
dengan palpasi adalah metode standar
untuk menilai prevalensi GAKY. Ukuran tiroid lebih tepat pada penilain
dasar berat ringannya GAKY dan juga berperan dalam dampak jangka panjang dari
pemantaun program (WHO,2001).
Keuntungan
metode Palpasi adalah tidak membutuhkan biaya mahal dan relatif mudah dilakukan
oleh orang yang sudah di training dan tidak bersifat invasif. Klasifikasi grade
palpasi gondok adalah sebagai berikut :
Klasifikasi Gondok
|
Grade 0
|
Tidak teraba dan tidak terlihat.
|
|
Grade 1
|
Tidak terlihat
pada posisi leher normal tapi
Teraba.
|
|
Grade 2
|
Terlihat
apabila menelan dan ketika posisi leher normal.
|
Sumber : WHO 2001
2. Yodium urin
Sebagian
besar yodium yang diserap tubuh dapat dilihat di urin karena eksresi yodium
urin menggambarkan asupan yodium harian. Secara individu eskresi yodium dapat
berubah tergantung konsumsi makanan setiap hari. Studi menunjukkan secara
meyakinkan profil konsentrasi yodium pagi hari atau sewaktu pada anak atau
orang dewasa merupakan penilaian adekuat nutrisi yodium pada populasi. (WHO,
2001).
Tabel kriteria epidemiologis penilaian yang berasal dari makanan yang
disantap berdasarkan nilai median kadar yodium urine.
|
Rata-rata
Kadar Urine (µg/L)
|
Asupan Yodium
|
Status Yodium
|
|
<20
|
Tidak cukup
|
Kurang yodium berat
|
|
20-49
|
Tidak cukup
|
Kurang yodium sedang
|
|
50-99
|
Tidak cukup
|
Kurang yodium ringan
|
|
100-199
|
Cukup
|
Optimal
|
|
200-299
|
Lebih dari cukup
|
Risiko hipotiroidisme yang diimbas yodium pada
5-10 tahun ke depan setelah suplementasi garam beryodium bagi golongan rentan
|
|
>300
|
Berlebihan
|
Risiko hipertiroidisme diimbas yodium dan
penyakit tiroid autoimmune
|
(Dikutip dari: “Assessment
of IDD and monitoring their elimination”.2nd ed. WHO 2001)
3.
Ultrasonografi
Metode ini
aman tidak bersifat invasif. Hasil pemeriksaan sangat signifikan dibandingkan
TGR dalam memonitor program kontrol yodium dimana volume Thyroid diharapkan
mengecil. Di masa mendatang Ultrsonografi dipertimbangkan untuk digunakan
secara luas untuk menilai GAKY (IDD) Berat alat antara 12-15 kg dengan panjang
gelombang 7,5 MHz dan harga sekitar $ 15.000. Membutuhkan listrik dan operator
terlatih. (WHO, 2001).
4.
Thyroid Stimulating Hormone (TSH)
Kelenjar Pituitary mengeluarkan TSH sebagai respon konsentrasi dari kadar
T4 di sirkulasi darah. TSH meningkat ketika T4 rendah, menurun bila T4
meningkat. Defisiensi yodium ditandai dengan rendahnya kadar T4 dalam darah dan
meningkatnya TSH. Jadi penderita defisiensi yodium pada populasi umumnya
mempunyai serum TSH lebih tinggi Meskipun pemeriksaan nilai TSH cukup akurat
pada orang dewasa namun tidak dianjurkan untuk digunakan secara rutin sebagai
data survey (WHO, 2001).
TSH pada bayi adalah indikator yang baik untuk kondisi defisiensi yodium.
Kadar homon tiroid pada bayi mengandung yodium lebih rendah dibandingkan dengan
orang dewasa ini karena pertukaran yodium yang tinggi. Pertukaran tinggi
bukanlah hal yang berlebihan pada keadaan defisiensi yodium, sebab terjadi
peningkatan stimulasi tiroid oleh TSH. Penyebab TSH meningkat
pada bayi dengan keadaan defisiensi yodium adalah fenomena yang disebut Transient
Hypertyrotopinemia.
f. Pencegahan GAKY
Menurut Djokomoeljanto
(1993), Upaya pencegahan dan penanggulangan GAKI dilakukan dengan memberikan
unsur yodium. Dosis cukup memadai atau adekuat, diberikan secara terus menerus
atau kontinyu serta dapat mencapai semua segmen penduduk khususnya yang rawan
(daerah endemis). Secara
relatif, hanya makanan laut yang kaya akan yodium : sekitar 100 μg/100 gr.
Pencegahan dilaksanakan melalui pemberian garam beryodium. Jika garam beryodium
tidak tersedia, maka diberikan kapsul minyak beryodium setiap 3, 6 atau 12
bulan, atau suntikan ke dalam otot setiap 2 tahun.
Kegiatan pencegahan dan penaggulangan GAKI yang telah dilakukan oleh
pemerintah meliputi komunikasi , informasi dan edukasi (KIE ) terhadap
penaggulangan GAKI yang tertuju pada 3 ( tiga ) kelompok sasaran yaitu :
1. Para
perencana, pengelola dan pelaksana program.
2. Masyasarakat
di daerah gondok endemik.
3. Masyarakat
di luar daerah gondok endemik.
g. Penanggulangan
Intervensi GAKI terus dilakukan
dengan bantuan sejumlah badan dunia. Program intensifikasi penanggulangan GAKI
yang berlangsung tahun 1997–2003 bertujuan menurunkan prevalensi GAKI lewat
pemantauan status GAKI pada penduduk, meningkatkan persediaan garam beriodium
serta meningkatkan kerja sama lintas sektoral. Upaya penanggulangan GAKI sudah
dimulai sejak pemerintahan Belanda melalui distribusi garam beryodim ke daerah
endemik berat. Penanggulangan GAKI dilakukan dalam dua jangka waktu, yaitu :
1. Jangka
Panjang: suplementasi tidak langsung melalui fortifikasi garam konsumsi dengan
iodium dimana program ini disebut garam iodium.
2. Jangka
pendek: suplementasi langsung dengan ,minyak iodium baik secara oral maupun
suntikan lipiodol. Upaya ini hanya ditunjukkan pada daerah endemik berat dan
telah dilaksanakan sejak tahun 1974.
3.
Kapsul yodium adalah preparat minyak beryodium dengan dosis
tinggi dan tiap kapsul berisi 200 mg yodium dalam larutan minyak.
Kapsul
yodium diberikan kepada penduduk yang tinggal di daerah endemik sedang dan
berat (prevalensi ≤ 20%) setiap tahun sekali dengan ketentuan :
1.
Laki-laki : 0-20 tahun
2.
Perempuan : 0-30 tahun
3.
Semua ibu hamil dan menyusui
Dosis pemberian Kapsul yodium
1.
Bayi 0-1 ½ kapsul/tahun
2.
Balita 1-5 1 kapsul/tahun
3.
Wanita 6-35 2 kapsul/tahun
4. Pria 6-20 2 kapsul/tahun
5. Wanita hamil dan menyusui- 2
kapsul/tahun
(Depkes, 2000)
Menurut ketentuan Peraturan Menteri
Kesehatan RI 1986, kandungan KIO3 yang dianjurkan adalah 40 ppm.
Iodium diperlukan semata – mata untuk biosintesis hormon thyroid yang
mengandung iodium. Kebutuhan iodium meningkat pada kaum remaja dan kehamilan. Banyaknya
metoda suplementasi Iodium tergantung pada beratnya GAKI pada populasi, grade
iodium urine dan prevalensi goiter dan kretinism.
1. GAKI ringan:
Akan lenyap
dengan sendirinya jika status ekonomi penduduk ditingkatkan.
2. GAKI sedang
:
Dapat
dikontrol dengan garam berjodium (biasanya 20 – 40 mg/kg pada tingkat rumah
tangga). Disamping itu minyak beriodium diberi secara oral atau suntik yang
dikoordinasi melalui puskesmas.
3. GAKI berat :
Penanganannya
: minyak beriodium diberikan (secara oral pada 3, 6, dan 12 bulan maupun
suntikan setiap 2 tahun) sampai sistim garam berjodium efektif, jika sistim
saraf pusat dicegah dengan sempurna.
E. Sindrom Down
Down sindrom merupakan golongan
penyakit genetik karena cacatnya terdapat pada bahan keturunan/materi genetik,
tetapi penyakit ini bukan penyakit keturunan atau karena kuman yang
bisa menular dari penderita ke orang lain (Faradz, 2003). Down sindrom merupakan
sindroma kongenital (kelainan bawaan) yang paling sering terjadi dan juga
merupakan penyebab ketidakmampuan intelektual yang paling sering
ditemukan.. Penyebab hal ini masih belum diketahui pasti. Yang dapat
disimpulkan sampai saat ini adalah makin tua usia ibu makin tinggi risiko
untuk terjadinya down sindrom. Peluang seorang wanita mempunyai anak dengan down
sindrom meningkat bersamaan dengan peningkatan usianya pada saat hamil.
Kejadian sindroma Down diperkirakan 1 per 800 hingga 1 per 1000 kelahiran
dan Mengenai semua etnis serta seluruh kelompok ekonomi (Selikowizt, 2001).
Sindroma down merupakan istilah untuk menunjuk
anak-anak yang mengalami sekumpulan gejala keterlambatan perkembangan mental.
Anak-anak Down
Syndrom mempelajari berbagai hal lebih lambat dari
pada anak-anak lain sebayanya. Dia mungkin terlambat mulai bergerak, tersenyum,
menunjukkan minat pada berbagai hal, menggunakan tangan, duduk, berjalan,
berbicara dan lain-lain semuanya mengalami keterlambatan. Anak Down Syndrom mengalami keterlambatan
dalam menggunakan tubuh dan pikirannya. Sebabnya dimungkinkan karena
kesalahan”kromosom” ketika masih di dalam kandungan (David Werner, 2002).
a. Penyebab
Down Syndrom
Penyebab hal ini masih belum diketahui,
tapi ada beberapa faktor yang memungkinkan terjadinya down sindrom ini menurut
Juwariah (2009), seperti:
1. Genetik
Karena
menurut hasil penelitian epidemiologi mengatakan adanya peningkatan resiko
berulang bila dalam keluarga terdapat anak dengan down sindrom.
2. Radiasi
Ada
sebagian besar penelitian bahwa sekitar 30 % ibu yang melahirkan anak
dengan syndrom down pernah mengalami radiasi di daerah sebelum terjadi
konsepsi.
3. Infeksi
dan kelainan kehamilan
Terutama
autoimun tiroid atau penyakit yang dikaitkan dengan tiroid.
4. Autoimun
dan kelainan endokrin pada ibu.
5. Umur
ibu
Apabila
umur ibu diatas 35 tahun diperkirakan terdapat perubahan hormonal yang dapat
menyebabkan “non dijunction” pada kromosom. Perubahan endokrin seperti
meningkatnya sekresi androgen, menurunnya kadar hidroepiandrosteron, menurunnya
konsentrasi estradiolsistemik, perubahan konsentrasi reseptor hormon
danpeningkatan kadar LH dan FSH secara tiba-tiba sebelum dan selam menopause.
Selain itu kelainan kehamilan juga berpengaruh.
6.
Umur ayah
7. Faktor
lain seperti gangguan intragametik, organisasi nukleolus, bahan kimia dan
frekuensi koitus.
b. Gejala Down Syndrom
Gejala-gejala anak Down Syndrom di antaranya adalah sebagai berikut (David Werner,
2002):
1.
Ketika lahir bayi tampak lemas atau lemah lunglai.
2. Bayi tidak banyak menangis
3. Bayi lebih lambat dari bayi lain sebayanya
dalam hal berguling, mengambil benda-benda main, duduk, merangkak, berdiri dan
berjalan.
4. Ketia diturunkan tiba-tiba, refleknya tidak
baik.
5. Ada lipatan kulit menutupi sudut dalam kelopak
matanya.
6. Mungkin kelopak matanya merah dan bengkak.
7. Manik matanya banyak bercak putih seperti
pasir
8. Kepala pendek atau kecil, lebar dan datar di
bagian belakang
9. Kadang panggulnya meleset dari sendi
10. Wajah pipih
11. Hidung kecil pesek di antara kedua mata
12. Tangan pendek dan lebar, jari-jarinya pendek.
Kelingking mungkin bengkok atau hanya memiliki satu lipatan
13. Leher pendek, bahu bundar
14. Lengan dan tungkai pendek
15. Tempurung lutut meleset ke satu sisi
16. Berjari kaki burung dara, kaki datar.
17.
Ibu jari kaki terpisah jauh dari jari-jari lainnya.
Di
samping tanda dan gejala tersebut, kemungkinan juga disertai tanda-tanda
berikut ini:
1.
Sendi siku, panggul dan pergelangan kaki mungkin sangat kendur dan
lentur
2. Satu di antara 3 anak mempunyai masalah
jantung
3. Mungkin terkena leukemia (kangker darah)
4.
Satu diantara 10 anak ada yang bermasalah tulang leher cacat yang
dapat meleset dan menjepit urat saraf di tulang belakang/punggung. Hal ini
dapat menyebabkan kelumpuhan.
Anak
yang terkena Down Syndrom kondisinya
dapat ringan, sedang atau berat. Ada anak yang tidak pernah dapat belajar
berbicara, membaca, menulis dan berhitung, tetapi anak sementara anak lain yang
mampu melakukan kegiatan belajar, meskipun mengalami keterlambatan.
Anak-anak
Down Syndrom yang ringan dan sedang,
mereka dapat belajar mengurus kebutuhan mendasar mereka dan membantu pekerjaan
yang sederhana. Mereka dapat sekolah, meskipun membutuhkan bantuan dalam
beberapa hal. Mereka dapat hidup cukup normal dengan keluarga dan masyarakat
sekitarnya.
Ada tiga
hal utama yang perlu dilakukan dalam mengasuh anak Down Syndrom .
1.
Bantulan anak mengembangkan kemampuan fisik dan mentalnya,.
2. Lindungilah anak dari penyakit menular.
3. Cegah dan koreksilah fisik anak apabila ada
penyimpangan, diantaranya dengan melakukan pemeriksaan fisik secara dini dan
segera merujuk ke terapis apabila menjumpai penyimpangan organ gerak.
c.
Pencegahan
Pencegahan dapat dilakukan dengan
melakukan pemeriksaan kromosom melalui amniocentesis bagi para ibu hamil
terutama pada bulan-bulan awal kehamilan. Terlebih lagi ibu hamil yang pernah
mempunyai anak dengan sindrom down atau mereka yang hamil di atas usia 40 tahun
harus dengan hati-hati memantau perkembangan janinnya karena mereka memiliki
risiko melahirkan anak dengan sindrom down lebih tinggi. Sindrom down tidak
bisa dicegah, karena DS merupakan kelainan yang disebabkan oleh kelainan jumlah
kromosom. Jumlah
kromosom 21 yang harusnya cuma 2 menjadi 3. Penyebabnya masih tidak diketahui
pasti, yang dapat disimpulkan sampai saat ini adalah makin tua usia ibu makin
tinggi risiko untuk terjadinya DS.
Diagnosis dalam kandungan bisa
dilakukan, diagnosis pasti dengan analisis kromosom dengan cara pengambilan CVS
(mengambil sedikit bagian janin pada plasenta) pada kehamilan 10-12 minggu)
atau amniosentesis (pengambilan air ketuban) pada kehamilan 14-16 minggu.
Konseling Genetik maupun amniosentesis pada kehamilan yang dicurigai akan
sangat membantu mengurangi angka kejadian Sindrom Down. Dengan Biologi
Molekuler, misalnya dengan “gene targeting“ atau yang dikenal juga sebagai
“homologous recombination“ sebuah gen dapat dinonaktifkan (Rex, 1982).
d.
Pengobatan
Sampai saat ini belum ditemukan metode
pengobatan yang paling efektif untuk mengatasi kelainan ini. Pada tahap
perkembangannya penderita Down syndrom juga dapat mengalami kemunduran dari
sistim penglihatan, pendengaran maupun kemampuan fisiknya mengingat tonus
otot-otot yang lemah. Dengan demikian penderita harus mendapatkan dukungan
maupun informasi yang cukup serta kemudahan dalam menggunakan sarana atau fasilitas
yang sesuai berkaitan dengan kemunduran perkembangan baik fisik maupun
mentalnya.
Walaupun secara jumlah meningkat, namun
penderita down syndrome lebih banyak yang berprestasi dan hidup lebih lama
dibanding orang dengan kehidupan yang lebih berkecukupan. Dengan kata lain,
harapan hidup dan mutu kehidupan para penderitadown syndrome jauh meningkat
beberapa tahun terakini. Perbaikan kualitas hidup pengidap down sindrom dapat
terjadi berkat perawatan kesehatan, pendekatan pengajaran, serta penanganan yang
efektif.
Stimulasi sedini mungkin kepada bayi
yang DS, terapi bicara, olah tubuh, karena otot-ototnya cenderung lemah.
Memberikan rangsangan-rangsangan dengan permainan-permainan layaknya pada anak
balita normal, walaupun respons dan daya tangkap tidak sama, bahkan mungkin
sangat minim karena keterbatasan intelektualnya. Program ini dapat dipakai
sebagai pedoman bagi orang tua untuk memberi lingkunga yang memeadai bagi anak
dengan syndrom down, bertujuan untuk latihan motorik kasar dan halus serta
petunjuk agar anak mampu berbahasa. Selain itu agar ankak mampu mandiri sperti
berpakaian, makan, belajar, BAB/BAK, mandi,yang akan memberi anak kesempatan
(Rex, 1982).
BAB III
METODE PELAKSANAAN
A.
Waktu dan Tempat
Waktu
Praktikum
ini dilakukan pada hari kamis tanggal 7 Mei 2015.
Tempat
Praktikum
ini dilakukan di Balai Penelitian dan Pengembangan GAKI, Kecamatan Borobudur
Kabupaten Magelang.
B.
Cara Pengambilan Data
Data diambil
dari responden menggunakan data sekunder atau
dokumentasi yaitu berupa dokumen atau catatan pengunjung yang disebut data
rekam medik pasien di Balai Penelitian dan Pengembangan GAKI. Sedangkan data penunjang lain dan penjelasan mengenai status kesehatan
responden didapat dari keterangan dokter yang memeriksa responden serta dari
petugas-petugas lain di Balai Penelitian dan Pengembangan GAKI.
C.
Analisis Data
Proses
analisis data dimulai dengan menelaah seluruh
data yang tersedia dari berbagai sumber, yaitu data rekam
medik, pengamatan, yang sudah ditulis dalam catatan lapangan,
dokumen pribadi, dokumen resmi, gambar foto, setelah dibaca, dipelajari, dan
ditelah maka langkah berikutnya adalah mengadakan reduksi data yang
dilakukan dengan membuat rangkuman langkah
selanjutnya adalah penafsiran data.
BAB IV
HASIL DAN
PEMBAHASAN
A. Hasil
Melalui data rekam medik responden diperoleh
hasil sebagai berikut:
Nama : AM
Alamat :
Dusun Andong Sili RT.05 RW.02 Mojotengah Wonosobo
Umur
: 52 tahun
Berat badan
: 53,1 kg
Tinggi
badan : 158,8 cm
Anggota
keluarga lainnya
|
No
|
Nama
|
Status
|
L/P
|
Tgl lahir
|
Umur
|
Pendidikan
|
Pekerjaan
|
|
1.
|
AM
|
Ayah
|
L
|
6 Juli 1962
|
52 tahun
|
SMA
|
PNS
|
a.
Hasil palpasi :
·
Grade : 2
·
Tanda fisik : Ada
benjolan dan tyroid teraba
·
Keluhan awal : Munculnya benjolan
b.
Hasil tes urin :
·
Tidak diketahui adanya tes
urin di dalam data rekam medik pasien.
c.
Hasil Tes Darah :
·
Tes TSH Serum = 0,02 dari kondisi normal = 0,3 – 6,2
·
Tes FT4 = 1,45 dari kondisi normal = 0,8 – 2 μG/mL
d.
Status kesehatan :
·
Responden memiliki penyakit lain yaitu deabetes melitus dan gondok.
e.
Riwayat keluarga :
·
Responden
tidak memiliki keluarga lain dengan gangguan GAKI.
·
Responden tidak memiliki
anggota keluarga lain yang mengalami lahir mati.
·
Responden tidak memiliki
anggota keluarga lain yang mengalami cacat bawaan.
·
Responden tidak memiliki
anggota keluarga lain yang mengalami keguguran.
·
Responden tidak memiliki
anggota keluarga lain yang mengalami keterbelakangan mental.
·
Responden tidak memiliki
anggota keluarga lain yang mengalami kretin.
f.
Pengetahuan responden tentang GAKY :
Secara keseluruhan responden tahu tentang GAKY, tanda-tanda, penyebab dan
penanganan yang tepat untuk mengatasi GAKY. Namun responden tidak menggunakan
garam beryodium dirumah, responden juga tidak mengetahui berapa sebaiknya
penambahan iodium dalam garam dan cara menyimpan garam beryodium yang benar.
Responden juga tidak mengetahui apa itu zat goitrogenik serta bahan makanan
yang mengandung zat goitrogenik.
B. Pembahasan
Karakteristik responden yang kami dapat
dalam praktikum ini berinisial AM, responden
bertempat tinggal di Desa Andong Sili
RT.
05 RW. 02 Mojotengah Wonosobo.
Responden lahir pada tanggal 6 Juli 1962,
mempunyai berat badan 53,1 kg
dan tinggi badan 158,8
cm. Responden berstatus sebagai ayah, dengan
pendidikannya yaitu SMA dan pekerjaanya sebagai seorang PNS.
Berdasarkan data rekam medik
yang di dapat, diketahui bahwa responden memiliki penyakit lain yaitu diabetes
mellitus. Dalam catatan medik status kesehatan, responden tidak menderita
penyakit lain kecuali diabetes mellitus dan gondok.
Data rekam medik menunjukan
kondisi pasien mengalami hipertiroid, kemudian terdapat pembesaran kelenjar di
bagian leher. Berdasarkan data diketahui bahwa responden masih mengkonsumsi
obat thyrozol dan propenol.
Gejala yang timbul berdasarkan
data rekam medik responden yaitu :
1.
Berdebar-debar
2.
Kelelahan
3.
Keringat
berlebih
4.
Nafsu akan
bertambah dan berkurang
5.
Berat badan
kurang
6.
Kelenjar tiroid
teraba
7.
Tremor jari
8.
Tangan basah
9.
Hipertensi
Berdasarkan tes palpasi
diketahui bawha responden masuk dalam derajat atau grade 2. Ada tanda fisik
yang nampak yaitu berupa pembesaran kelenjar di bagian leher dan kelenjar
tiroid teraba. Pada data rekam medik hasil tes urin tidak diketahui karena
responden tidak melakukan tes urin. Sedangkan pada peeriksaan tes darah didapat
hasil sebagai berikut :
Tes TSH Serum = 0,02 dari kondisi normal 0,3-6,2
Tes FT4 = 1,45 dari kondisi
normal 0,8-2 μg/ml
Berdasarkan hasil data
pemeriksaan yang telah dilakukan responden di BP2GAKY sebagai berikut:
1.
Pemeriksaan
Psikologi (BAI)
Hasil skor
16 dan kategori 3
2.
Pemeriksaan USG
3.
Pemeriksaan
Fisik :
a.
Kunjungan ke-4
: - Tekanan Darah = systole 122 mmHg,
diastole 61 mmHg.
-
Nadi = 81 kali/ menit
b.
Kunjungan ke-5 : - Tekanan Darah = systole 126 mHg,
diastole 69 mmHg
-
Nadi = 79 kali/menit
Laporan hasil uji :
1.
Tanggal 20
Agustus 2014 : Nama sampel =
serum
Jenis Pengujian = TSH
Metode Pengujian = ELISA
Hasil =
0,02 μg/L dari kondisi normal 0,3-0,4
μg/L
2.
Tanggal 11
November 2014 : Hasil = 3,21 μg/L
3.
Jenis Pengujian
FT4 : Hasil = 1,45
μg/ml
Normal = 0,8-2,0 μg/ml
Riwayat keluarga responden menunjukkan
bahwa tidak ada anggota keluarga yang mengalami gejala GAKI, lahir mati, cacat
bawaan, keguguran, keterbelakangan mental maupun mengalami kretin.
Pengetahuan tentang GAKI, kami peroleh
dari hasil data rekam medik di BP2GAKY dengan
responden berinisial AM.
Dari
hasil data rekam medik diperoleh
bahwa responden mengetahui tentang GAKI. Responden
juga mengetahui tentang hipertiroid yang merupakan salah satu akibat GAKI dan
mengetahui cara mengatasi hipertiroid. Selain itu responden juga mengetahui tanda-tanda
GAKI yaitu pembesaran kelenjar di bagian leher. Berdasarkan data rekam medik
responden mengetahui penyebab GAKI yaitu kerena kekurangan yodium atau
kekurangan mengkonsumsi garam yang beryodium. Berdasarkan data responden juga
mengetahui manfaat dan cara penanganan yang tepat untuk mengatasi GAKI. Namun
responden tidak menggunakan garam beryodium dirumah mereka, selain itu
responden tidak mengetahui berapa sebaiknya penambahan iodium dalam garam dan
bagaimana penyimpanan garam yang benar. Berdasarkan data rekam medik juga
tertera bahwa responden tidak mengetahui tentang zat goitrogeni dan bahan
makanan apa saja yang mengandung zat goitrogenik tersebut.
Dari
kuisioner pengetahuan tentang GAKY dilakukan pembobotan.
|
No.
|
Pertanyaan ke-
|
Jawaban
|
Skor
|
|
1.
|
Pertanyaan 1
|
Ya
|
1
|
|
2.
|
Pertanyaan 2
|
Ya
|
1
|
|
3.
|
Pertanyaan 3
|
Ya
|
1
|
|
4.
|
Pertanyaan 4
|
Tidak
|
0
|
|
5.
|
Pertanyaan 5
|
Ya
|
1
|
|
6.
|
Pertanyaan 6
|
Tidak
|
0
|
|
7.
|
Pertanyaan 7
|
Tidak ada data yang tersedia
|
0
|
|
8.
|
Pertanyaan 8
|
Tidak
|
0
|
|
9.
|
Pertanyaan 9
|
Tidak
|
0
|
|
10.
|
Pertanyaan 10
|
Ya
|
1
|
Catatan: keterangan pertanyaan dapat di lihat pada
lampiran hasil kuisioner
Total
skor: 0-3 = pengetahuan kurang
4-6 = pengetahuan sedang
7-10
= pengetahuan baik
Hasil pembobotan mendapat total skor 5, sehingga dapat disimpulkan bahwa responden memiliki tingkat pengetahuan
yang sedang mengenai GAKY. Tingkat pengetahuan seseorang
merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kejadian GAKY. Seseorang dengan
tingkat pengetahuan rendah maka memiliki risiko yang lebih besar untuk
mengalami GAKY, sedangkan seseorang dengan tingkat pengetahuan yang tinggi
memiliki risiko kecil untuk mengalami GAKY.
Merujuk pada data dan pengamatan yang dilakukan maka
dapat diperkirakan responden mengalami hipertiroid,
hal ini didasarkan pada tanda yang timbul pada responden yaitu benjolan di
daerah leher, selain itu
responden juga tinggal di daerah endemik. Responden memiliki
pengetahuan yang sedang mengenai
GAKY, dari uraian diatas menunjukkan bahwa responden memiliki banyak faktor
resiko terjadinya GAKY sehingga dapat diperkirakan benjolan yang dialami responden
adalah tanda dari GAKY yang berupa pembesaran kelenjar tiroid dengan didukung data pemeriksaan laboratorium yang telah dilakukan
responden.
BAB V
SIMPULAN DAN
SARAN
A.
Kesimpulan
Iodium merupakan zat gizi essensial bagi tubuh, karena merupakan
komponen dari hormon thyroxin.
Terdapat dua ikatan organik yang menunjukkan bioaktivitas hormon ini, yaitu trijodotyronin (T3), tetrajodotyronin (T4) atau thyroxin.
Yodium terdapat dalam makanan dalam bentuk
yodide, yang secara umum berikatan dengan asam amino. Yodide diserap usus
dengan cepat dan diasimilasi oleh kelenjar Tiroid untuk digunakan dalam
produksi hormon Tiroid. Yodium merupakan bagian dari asam amino sebagai
tyrosine yang tidak banyak diserap.
Gangguan
akibat kekurangan yodium adalah sekumpulan gajala yang dapat ditimbulkan karena
tubuh seseorang kekurangan unsur yodium secara terus-menerus dalam waktu cukup
lama. (DepKes RI, 2000).
Faktor penyebab GAKY diantaranya yaitu faktor geografi, factor lingkungan, factor
bahan pangan goitrogenik dan factor lain-lain.
Penanggulangan GAKI
dilakukan dalam dua jangka waktu, yaitu jangka panjang dan jangka pendek.
Jangka panjang yaitu dengan suplementasi tidak langsung melalui fortifikasi
garam konsumsi dengan iodium dimana program ini disebut garam iodium. Sedangkan
jangka pendek yaitu dengan suplementasi langsung dengan ,minyak iodium baik
secara oral maupun suntikan lipiodol.
Praktikum yang
dilakukan merupakan suatu study lapangan yang bertujuan untuk melihat langsung
permasalahan GAKY di daerah endemik, praktikum dilakukan dengan pengambilan
data sekunder sebagai penunjang dari petugas kesehatan di Balai Penelitian dan
Pengembangan GAKY. Alur penanganan pasien yang datang ke BP2GAKY yaitu mulai
dari pasien datang kemudian diperiksa oleh dokter, dokter dapat merujuk pasien
ke laboratorium, bagian psikologi TumBang atau ke bagian gerak motorik kasar.
Berdasarkan data yang didapat diketahui responden sudah datang beberapa kali untuk melakukan pemeriksaan ke BP2GAKY sehingga diketahui hasil tes laboratorium yang memastikan
penyebab dari benjolan yang diduga disebabkan karena GAKY, dari hasil data rekam medik diketahui responden menderita hipertiroid,
hal ini didasarkan pada tanda yang timbul pada responden yaitu benjolan di
daerah leher, selain itu responden
juga tinggal di daerah endemik. Responden juga memiliki pengetahuan yang sedang mengenai GAKY, dari uraian diatas menunjukkan bahwa
responden memiliki banyak faktor resiko terjadinya GAKY sehingga dapat
diperkirakan benjolan yang dialami responden adalah tanda dari GAKY yang berupa
pembesaran kelenjar tiroid dengan didukung data
pemeriksaan laboratorium yang telah dilakukan responden.
B.
Saran
1. Saran untuk
Pemerintah
a. Program
penanggulangan GAKY baik yang jangka pendek maupun jangka panjang harus terus
berlanjut
b. Pengawasan
dan pemantauan terhadap defisiensi cadangan makanan yang mengandung yodium di
seluruh masyarakat terutama pada daerah pegunungan
c. Mendistribusikan
makanan yang mengandung yodium keseluruh masyarakat (garam beryodium)
d. Mensosialisasikan
masalah GAKY pada masyarakat (misalnya iklan di televisi)
2. Saran untuk
Petugas Kesehatan
a. Mensosialisasikan
tentang pentingnya asupan yodium bagi kesehatan
b. Mensosialisasikan
tentang anjuran asupan yodium yang disarankan
c. Mengawasi,
memantau dan segera menindak lanjuti jika terdapat masyarakat yang mengalami
GAKY
3. Saran untuk
Masyarakat
a. Mengkonsumsi garam yang mengandung
yodium
b. Memperhatikan jumlah asupan yodium
c. Menyimpan
garam beryodium dengan benar
DAFTAR
PUSTAKA
Arisman
MB. 2004. Gizi dalam Daur Kehidupan. EGC. Jakarta.
BP2GAKI.
2012. http://www.bpgaki.litbang.depkes.go.id/.
Diakses pada tanggal 14 Mei 2015.
David Werner. 2002. Anak-Anak Desa Yang Menyandang
Cacat. Malang: Bakti Luhur.
Depkes, RI. 2000. Pedoman Pelaksanaan
Pemantauan Garam Beryodium di Tingkat Masyarakat. Jakarta : Depkes RI
Djokomoeljanto R. 2002. Evaluasi Masalah
Gangguan Akibat kekurangan Yodium (GAKY) Di Indonesia. Jurnal GAKY.
Desember Vol.3 No 1.p:31-39
Djokomoeldjanto,
R. 1994. Hipotiroidi di Daerah Defisiensi Iodium. Kumpulan
Naskah Simposium GAKI. Hal. 35-46. Badan
Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang.
Djokomoelyanto. 1998.
Gangguan Akibat Defisiensi iodium dan gondok endemik. Dalam Ilmu
Penyakit Dalam. Edisi III : S.Noer (Ed). Penerbit buku kedokteran EGC. Jakarta.
Faradz,
Sultana MH. 2003. Mengenal Sindroma Down. http://www.suaramerdeka.
com/harian/0301/08/nas13.htm. Diakses pada tanggal 07 Juni 2012.
Juwariah.
2009. Dukungan Sosial Keluarga terhadap Anak Down Sindrom di Yayasan Pembina
Anak Cacat (YPAC) Medan. Skripsi. Program Studi Ilmu Keperawatan S1
Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara. Medan
Kodyat, B. 1996. Nutritional in Indonesia : Problems,
Trends, Strategy and Program Directorate of community Nutrition, Departemen
Health, Jakarta
Matovinovic, J. Yodium. Dalam RE Olson (Ed). Pengetahuan
Gizi Mutakhir: Mineral. Gramedia, Jakarta. 1998(227-249). Treatise. Chicago.
Year Book Medical Publisher.p.263-280. 1986 b.
Palupi.
2008. Garam Beryodium. http://Kuliahbidan.Wordpress.com/2008/10/12/Garamberyodium/ di akses tanggal 14 Mei 2015.
Picauly,
Intje. 2002. Iodium
dan Gangguan
Akibat Kekurangan Iodium (gaki). http://rudyct.com/PPS702-ipb/05123/intje_picauly.htm. Diakses
tanggal 14 Mei 2015.
Rex A.P, Preus M. 1982. A
diagnostic index for Down syndrome. J Pediatr.
Rusiawati,
Yuyus dan Smengen Sutomo. 1993.Penanggulangan Gangguan Akibat Kekurangan Iodium
di Indonesia. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan
RI. Jakarta.
Sediaoetama, Ahmad Djaelani. 2006. Ilmu
Gizi II. Dian Rakyat. Jakarta.
Selikowizt, Mark. 2001. Alih Bahasa
Surjadi Rini. Buku Seri Keluarga : Mengenal Sindroma Sown. Arcan.
Jakarta.
Soehardjo. 1990. Petunjuk
Laboratorium Penilaian Keadaan Gizi Masyarakat. PAU Pangan dan Gizi. IPB. Bogor.
Sukati S., dkk. Hubungan Status Pestisida dan Status
Iodium dalam Darah Pada Wanita Usia Subur Di daerah Gondok Endemik. Laporan
Akhir Penelitian, 2005.
Sunita Almatsier. 2010. Prinsip Dasar Ilu Gizi. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Thesa.
2009. GAKI (Gangguan Akibat Kekurangan Iodium). http://dokterthesa.
wordpress.com/2009/06/25/gaki/. Diakses pada tanggal 14 Mei 2015.
Wahab A, Beener A,
Teebi SA. 2006. The Incidence Patterns Of Down Syndrome In Qatar. Clin
Genet. Qatar.
Wardoyo, Pengaruh Pemberian Kapsul Yodol terhadap
Status Gondok Anak SD di Daerah Gondok Endemik Berat di Kabupaten Wonosobo.
Tesis IPB, Bogor. 1998.
WHO. Trace Element in Human Nutrition and Health.
World health Organization, Geneva. 1996.
Widardo.Effect of Selenium in addition to Vitamin A
and Iodine Supplementation on the goiter size in School Children in Central Java.
Thesis S2. SEAMED. University of Indonesia. Jakarta. 1998.
Wright A, Hastie N.
2007. Genes and Common Disease. Cambridge University Press. New York.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar