Tinkerbell Glitter Public Health: Semester4 Laporan GAKY

Kamis, 14 Mei 2015

Semester4 Laporan GAKY



LAPORAN HASIL STUDI LAPANGAN
DI BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GANGGUAN AKIBAT KEKURANGAN IODIUM (BP2GAKI), MAGELANG


BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang
Salah satu masalah kesehatan masyarakat yang dapat menghambat peningkatan mutu sumber daya manusia Indonesia adalah Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI). Upaya pencegahan dan penanggulangan GAKI, yaitu dengan memberikan unsur yodium telah lama dilakukan oleh pemerintah. Yodium merupakan zat essensial bagi tubuh, karena merupakan komponen dari Hormon tiroksin. Terdapat dua ikatan organik yang menunjukkan bioaktifitas hormon ini, ialah trijodotyronin T3 dan Tetrajodotyronin T4, yang terakhir juga disebut juga Tiroksin. (Sediaoetama, 2006). Dalam tubuh terkandung sekitar 25 mg yodium yang tersebar dalam semua jaringan tubuh, kandungannya yang tinggi yaitu sekitar sepertiganya terdapat dalam kelenjar tiroid dan yang relatif lebih tinggi dari itu ialah pada ovari, otot, dan darah.
Faktor kandungan yodium lahan suatu tempat sangat penting, karena akan menentukan kandungan yodium pada air dan bahan makanan yang tumbuh di tempat tersebut. Suatu wilayah menjadi kekurangan yodium disebabkan lapisan humus tanah sebagai tempat menetapnya yodium sudah tidak ada, karena akibat erosi tanah secara terus menerus atau akibat pembakaran hutan yang mengakibatkan yodium dalam tanah hilang (Djokomoeljanto, 2002). Sumber utama iodium yaitu laut, makanan laut berupa ikan, udang dan kerang serta ganggang laut merupakan sumber iodium yang baik. Di daerah pantai, air dan tanah mengandung banyak iodium sehingga tanaman yang tumbuh di daerah pantai mengandung cukup banyak iodium. (Sunita, 2010).
Jika kekurangan iodium, konsentrasi hormon tiroid menurun dan hormone perangsang tiroid atau TSH meningkat agar kelenjar tiroid mampu menyerap lebih banyak iodium. Bila kekurangan berlanjut, sel kelenjar tiroid membesar dalam usaha meningkatkan pengambilan iodium oleh kelenjar tersebut. (Sunita, 2010).
Salah satu dampak yang disebabkan karena kekurangan yodium adalah keterbelangan mental atau sindrom down. Sindrom Down merupakan salah satu kelainan kromosom dengan insiden 0,3 – 3,4 dalam 1000 kelahiran pada beberapa bagian di dunia (Wahab, 2006) dan merupakan penyebab umum dari 25-30% retardasi mental di dunia (Wright, 2007).
Angka prevalensi yang masih tinggi mengakibatkan pentingnya  penelitian dan pemantauan yang lebih mendalam terhadap masalah ini. Sehingga dapat diketahui cara pencegahan dan penanggulangannya secara tepat dan menurunkan angka prevalensi GAKI di wilayah Indonesia. Masalah GAKI memerlukan perhatian khusus, untuk itu keberadaan lembaga BP2 GAKI sangat diperlukan. BP2 GAKI Magelang adalah Unit Pelaksanaan Teknis dari Badan Litbangkes yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor: 575/MENKES/SK/IV/2000 yang kemudian disempurnakan dengan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor: 1351/MENKES/PER/IX/2005 tanggal 14 September 2005, dan terakhir dirubah kembali dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor: 2350/MENKES/PER/XI/2011 tanggal 22 November 2011 merupakan lembaga dengan kegiatan utama melakukan penelitian dan pengembangan untuk menunjang upaya penanggulangan masalah GAKI (BP2GAKI, 2012).

B.     Tujuan
a)      Tujuan Umum
Praktikum ini bertujuan agar mahasiswa dapat mengetahui secara langsung penderita GAKY di Balai Penelitian dan Pengembangan GAKY yang berada di magelang.
b)      Tujuan Khusus
Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui permasalahan GAKY yang meliputi klasifikasi, faktor resiko terjadinya GAKY seperti faktor genetik, ekonomi, lingkungan, pengetahuan dan perilaku komsumsi makanan yang mengandung yodium dan makanan yang mengandung zat goitrogenik, serta cara mendiagnosis, pencegahan dan cara penanganannya di BP2 GAKY.

C.    Manfaat
a)      Bagi masyarakat :
Menambah pengetahuan masyarakat mengenai GAKY, sehingga mereka dapat lebih memahami pentingnya yodium bagi kesehatan dan menggunakan garam beryodium untuk memasak. Hal tersebut dapat mengurangi angka prevalensi GAKY di masyarakat.
b)      Bagi mahasiswa :
Melalui praktikum ini mahasiswa dapat mengetahui permasalahan GAKY yang ada di masyarakat, faktor risiko, pencegahan dan cara penanggulangannya. Sehingga dapat ikut berpartisipasi untuk meminimalkan masalah GAKY yang ada di masyarakat.
c)      Bagi Jurusan Kesehatan Masyarakat :
Meningkatnya pengetahuan mahasiswa mengenai GAKY akan memberi kesempatan mahsiswa untuk terjun ke lapangan dengan pengetahuan yang mencukupi, sehingga mahasiswa dapat membantu jurusan kesehatan masyarakat dalam melakukan pengabdian pada masyarakat.
d)     Bagi Institusi BP2GAKI :
Memberikan tambahan referensi informasi tentang GAKI bagi peneliti-peneliti lain yang berkunjung ke BP2GAKI sehingga bisa memudahkan peneliti-peneliti lain dalam melakukan observasi.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.    Iodium
Iodium merupakan zat gizi essensial bagi tubuh, karena merupakan komponen dari hormon thyroxin. Terdapat dua ikatan organik yang menunjukkan bioaktivitas hormon ini, yaitu trijodotyronin (T3), tetrajodotyronin (T4) atau thyroxin. Iodium dikonsentrasikan di dalam kelenjar gondok (glandula thyroxin) untuk dipergunakan dalam sintesa hormon thyroxin. Hormon ini ditimbun dalam folikel kelenjar gondok, terkonjugasi dengan protein (globulin) yang disebut thyroglobulin yang merupakan bentuk yodium yang disimpan dalam tubuh, apabila diperlukan, thyroglobulin dipecah dan akan melepaskan hormon thyroxin yang dikeluarkan oleh folikel kelenjar ke dalam aliran darah (Yuastika, 1995).
Iodium ada di dalam tubuh dalam jumlah sangat sedikit, yaitu sebanyak kurang lebih 0,00004% dari berat badan atau 15-23 mg. Sekitar 75% dari iodium ini ada di dalam kelenjar tiroid, yang digunakan untuk mensintesis hormone tiroksin, tetraiodotironin (T4), triiodotironin (T3). Hormon-hormon ini diperlukan untuk pertumbuhan normal, perkembangan fisik dan mental hewan dan manusia. Sisa iodium ada di dalam jaringan lain, terutama di dalam kelenjar - kelenjar ludah, payudara, dan lambung serta di dalam ginjal. Di dalam darah yodium terdapat dalam bentuk iodium bebas atau terikat dengan protein (Protein-Bound Iodine/PBI). (Sunita, 2010).
Yodium terdapat dalam makanan dalam bentuk yodide, yang secara umum berikatan dengan asam amino. Yodide diserap usus dengan cepat dan diasimilasi oleh kelenjar Tiroid untuk digunakan dalam produksi hormon Tiroid. Yodium merupakan bagian dari asam amino sebagai tyrosine yang tidak banyak diserap ( Tom Brody, 1994). Anjuran asupan yodium setiap hari di dalam makanan menurut Arisman (2004):
a)      Dosis 50 µg/hari untuk kisaran usia 0-12 Bulan.
b)      Dosis 90 µg/hari untuk kisaran usia 1-6 tahun.
c)      Dosis 120 µg/hari untuk kisaran usia 7-12 tahun.
d)     Dosis 150 µg/hari untuk kisaran usia 12-Dewasa.
e)      Dosis 200 µg/hari untuk kisaran Ibu hamil dan menyusui.

B.     Sumber Iodium
Yodium dapat diperoleh dari berbagai jenis pangan dan kandungannya berbeda-beda tergantung asal jenis pangan tersebut dihasilkan. Kandungan yodium   pada buah dan sayur tergantung pada jenis tanah. Kandungan yodium pada jaringan hewan serta produk susu tergantung pada kandungan yodium pada pakan ternaknya. Pangan asal laut merupakan sumber yodium alamiah. (Picauly, 2002).
Laut merupakan sumber utama iodium. Oleh karena itu, makanan laut berupa ikan, udang, dan kerang serta ganggang laut merupakan sumber iodium yang baik. Di daerah pantai, air dan tanah mengandung banyak iodium sehingga tanaman yang tumbuh di daerah pantai mengandung cukup banyak iodium. Semakin jauh tanah itu dari pantai semakin sedikit pula kandungan iodiumnya, sehingga tanaman yang tumbuh di daerah tersebut termasuk rumput yang dimakan hewan sedikit sekali atau tidak engandung iodium. Salah satu cara penanggulangan kekurangan iodium ialah melalui fortifikasi garam dapur dengan iodium. Fortifikasi garam dengan iodium sudah diwajibkan di Indonesia. (Sunita, 2010).
Garam beryodium adalah garam natrium Clorida yang diproduksi melalui proses Yodisasi yang memenuhi Standart Nasional indonesia (SNI), mengandung yodium antara 30-80 ppm untuk konsumsi manusia atau ternak, pengasinan, ikan dan bahan penolong industri pangan kecuali untuk pemboran minyak, Chlor Alkali Plan (CAP) dan industri kertas pulp (Depkes RI, 2000).
a)      Persyaratan garam sehat
1.   Garam sehat adalah garam konsumsi yang telah difortifikasi dengan yodium yang cukup untuk kebutuhan tubuh yang mengandung kadar yodium antara 30-40 ppm dan kandungan air ≤ 5%.
2.   Garam Yodium diharuskan dikonsumsi seluruh penduduk baik di daerah endemik maupun daerah bukan endemic
3.   Konsumsi garam yodium rata-rata per orang 10 gr per hari dan kebutuhan ion yodium sebesar 150-200 mikrogram per orang per hari bila konsumsi rata-rata.
b)      Pengelolaan Garam Sehat
1.   Penyimpanan
Garam yodium perlu disimpan di bejana atau wadah tertutup, Tidak kena cahaya, Tidak dekat dengan tempat lembab air, hal ini untuk menghindari penurunan kadar yodium dan meningkatkan kadar air, karena kadar yodium menurun bila terkena panas dan kadar air yang tinggal akan melekatkan yodium. (Palupi, 2008).
Soehardjo (1990) mengatakan bahwa dengan mengkonsumsi pangan yang kaya yodium dapat menekan atau bahkan mengurangi besarnya prevalensi gondok. Rata-rata kandungan yodium dalam bahan makanan  antara lain : ikan tawar 30 mg, ikan laut 832 mg, kerang 798 mg, daging 50 mg, susu 47 mg, telur 93 mg, gandum 47 mg, buah-buahan 18 mg, kacang-kacangan 30 mg dan sayuran 29 mg. 
C.    Kebutuhan Iodium
Yodium merupakan zat essensial bagi tubuh, karena merupakan komponen dari Hormon tiroksin. Terdapat dua ikatan organik yang menunjukkan bioaktifitas hormon ini, ialah trijodotyronin T3 dan Tetrajodotyronin T4, yang terakhir juga disebut juga Tiroksin. (Sediaoetama, 2006). Anjuran Asupan Yodium setiap hari di dalam makanan menurut Arisman (2004) adalah :
1. Dosis 50 µg/hari untuk kisaran usia 0-12 Bulan.
2. Dosis 90 µg/hari untuk kisaran usia 1-6 tahun.
3. Dosis 120 µg/hari untuk kisaran usia 7-12 tahun.
4. Dosis 150 µg/hari untuk kisaran usia 12-Dewasa.
5. Dosis 200 µg/hari untuk kisaran Ibu hamil dan menyusui.
Khusus bagi kelompok ibu hamil tambahan tersebut sebagian dapat dipergunakan untuk keperluan aktivitas kelenjar tiroid dan sebagiannya lagi untuk pertumbuhan dan perkembangan janin khususnya perkembangan otak. Bagi ibu hamil yang mengkonsumsi yodium tidak mencukupi  kebutuhan maka bayi atau janin yang dikandung akan mengalami gangguan perkembangan otak (berat otak berkurang), gangguan perkembangan fetus dan pasca lahir, kematian perinatal (abortus) meningkat, kemudian setelah bayi dilahirkan mempunyai berat lahir rendah (BBLR) dan terdapat gangguan pertumbuhan tengkorak serta perkembangan skelet, sedangkan bagi tubuh ibu hamil akan mengalami gangguan aktivitas kelenjar tiroid. Pada kondisi ini tubuh akan mengalami penyesuaian yang pada akhirnya akan mengalami pembesaran kelenjar tiroid yang dikenal dengan sebutan gondok (Picauly, 2002).

D.    GAKY
Gangguan akibat kekurangan yodium adalah sekumpulan gajala yang dapat ditimbulkan karena tubuh seseorang kekurangan unsur yodium secara terus-menerus dalam waktu cukup lama. (DepKes RI, 2000). Selain itu, menurut Supariasa (2001), Gangguan akibat kekurangan yodium adalah rangkaian kekurangan yodium pada tumbuh kembang manusia, Sprektum seluruhnya terdiri dari gondok dalam berbagai stadium, kretin endemik yang ditandai terutama oleh gangguan mental, gangguan pendengaran, gangguan pada anak dan dewasa, sering dengan kadar hormon rendah angka lahir dan kematian janin meningkat.
Gondok adalah pembesaran kelenjar timid yang melebihi normal. Penduduk yang kekurangan iodium tidak dapat membuat cukup hormon tiroid. Untuk mencukupi kebutuhan hormon tiroid, kelenjar hipofisis membuat hormon yang disebut thyroid stimulating hormone (TSI-I) untuk merangsang kelenjar tiroid supaya lebih aktif menghasilkan hormon tiroid. Penambahan hormon TSH merupakan proses adaptasi yang normal, akan tetapi kondisi yang kronis mengakibatkan gondok. Penduduk yang menderita gondok menandakan bahwa mereka mengalami kekurangan iodium. (Rusiawati dkk, 1993).
 Kretin merupakan akibat yang lebih berat daripada hipotiroidi yang terjadi selama bayi masih dalam kandungan atau permulaan kelahiran. Kretin mengakibatkan keterbelakangan mental yang tidak dapat disembuhkan. Selain itu terdapat gejala seperti buta, tuli dan gangguan dalam pertumbuhan otot. Seperti kretin disertai gondok (Rusiawati dkk, 1993).
Pengertian GAKI yang lain menurut Thesa (2009), Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (Iodine Deficiency Disorder) adalah gangguan tubuh yang disebabkan oleh kekurangan iodium sehingga tubuh tidak dapat menghasilkan hormon tiroid. Kodyat (1996) mengatakan bahwa pada umumnya masalah ini lebih banyak terjadi di daerah pegunungan dimana makanan yang dikonsumsinya sangat tergantung dari produksi makanan yang berasal dari tanaman setempat yang tumbuh pada kondisi tanah dengan kadar yodium rendah.
GAKI mengakibatkan kematian anak. Anak-anak yang menderita Gaki kurang memiliki daya tahan tubuh terhadap infeksi dan derajat nutrisinya lebih rendah. Ibu hamil yang memperoleh iodium melahirkan anak yang lebih berat, sehat dan kemungkinan hidup lebih besar daripada ibu yang tidak memperoleh iodium. Ibu hamil yang memperoleh iodium melahirkan anak yang lebih besar kemungkinannya mencapai umur 15 tahun daripada anak dari ibu yang tidak memperoleh iodium (Dunn & Van Der Haar 1990).

a.   Defisiensi Akibat Kekurangan Iodium
Menurut laporan WHA (World Health Assembly, 1994), sekitar 1800 juta orang didunia beresiko mengalami defisiensi karena keliru bermuki dikawasan yang miskin yodium. Dari jumlah tersebut, sektar 656 juta orangtelah menampakkan tanda-tanda kekurangan yodium ; 43 juta menderita rusak mental dan 11,2 juta orang tampak jelas sebagai kretin. Di Asia Tenggara kira-kira 600 juta orang membangun keluarga di wilayah yang miskin yodium danmengakibatkan lebih kuang 170 juta orang menderita gondok (WHO regional Office for South-East Asia, 2000). Defisiensi iodium merupakan sebab pokok terjadinya masalah GAKI. Hal ini disebabkan karena kelenjar tiroid melakukan proses adaptasi fisiologis terhadap kekurangan unsur iodium dalam makanan dan minuman yang dikonsumsinya (Djokomoeldjanto, 1994).
1.      Defisiensi pada janin
Pengaruh utama defisiensi yodium pada janin ialah kretinisme endemis. Gejala khas kretinisme terbagi menjadi dua jenis, yaitu jenis saraf yang menampilkan tanda dan gejala seperti kemunduran mental, bisu-tuli dan diplegia spastik. Jenis kedua yaitu bentuk miksedema yang memperlihatkan tanda hipotiroidisme dan dwarfisme (Arisman, 2004).
2.      Defisiensi pada bayi baru lahir.
Selain berpengaruh pada angka kematian, kekurangan yang parah dan berlangsung lama akan mempengaruhi fungsi tiroid bayi yang kemudian mengancam perkembangan otak secara dini. (Arisman, 2004).
3.      Defisiensi pada anak dan remaja
Kekurangan yodium pada anak khas terpaut dengan insiden gondok. Angka kejadian gondok meningkat bersama usia, dan mencapai puncaknya setelah remaja. Prevalensi gondok pada wanita lebih tinggi daripada lelaki. Total Goitre Rate (TGR) anak sekolah lazim digunakan sebagai petunjuk dalam perkiraan besaran GAKY masyarakat suatu daerah. Gangguan pada anak dan remaja akibat kekurangan Yodium yaitu Gondok, hipoiroidisme Juvenile dan perkembangan fisik terhambat. (Arisman, 2004).
4.      Defisiensi pada Dewasa
Pada orang dewasa, kekurangan yodium menyebabakan keadaan lemas dan cepat lelah, produktifitas dan peran dalam kehidupan sosial rendah (isna, 2009), Gondok dan penyulit, Hipotiroidisme, Hipertiroidisme diimbas oleh yodium. (Arisman, 2004).
5.      Defisiensi pada ibu hamil
Pada ibu hamil menyebabkan keguguran spontan, lahir mati dan kematian bayi, mempengaruhi otak bayi dan kemungkinan menjadi cebol pada saat dewasa nanti. Seorang ibu yang menderita pembesaran gondok akan melahirkan bayi yang juga menderita kekurangan yodium. Jika tidak segera diobati, maka pada usia 1 tahun, sudah akan terjadi pembesaran pada kelenjar gondoknya. (Isna, 2009).
6.      Defisiensi pada semua usia
Bentuk gangguannya : Kepekaan terhadap radiasi nuklir meningkat (Arisman, 2004).

b.   Faktor Penyebab GAKI
1.      Faktor Geografi
Pemetaan GAKY Nasional tahun 1996/1998 mencakup semua kecamatan sehingga memungkinkan untuk mengolah data didasarkan pada letak geografis yang dikategorikan menjadi dataran tinggi, dataran rendah dan daerah rawa. Secara geografis dataran dapat dibagi menjadi 3 yaitu: Dataran Tinggi (Ketinggian di atas 200m), Dataran Rendah (Ketinggian di bawah 200m) dan Daerah Rawa-rawa (Sama dengan permukaan laut).  Djokomoelyanto (1998) mengemukakan bahwa dataran tinggi atau pegunungan biasanya miskin akan yodium karena lapisan paling atas dari tanah yang mengandung yodium terkikis dari waktu ke waktu. Sebaliknya tanah di dataran rendah kemungkinan terkikis lebih kecil sehingga diduga kandungan yodium masih normal. Di daerah rawa diharapkan tidak terjadi pengikisan tanah sehingga kadar yodium tanah dan air cukup tinggi.
2.      Faktor Bahan Pangan Goiterogenik
Faktor lingkungan yang terpenting adalah agen agen goitrogen. Goitrogen adalah zat atau bahan yang dapat mengganggu pembentukan hormon tiroid, sehingga dapat menyebabkan pembesaran kelenjar tiroid (gondok) (Djokomoelyanto, 1998 a). Terdapat 2 jenis goitrogen yaitu; goitrogen alami dan sintetis. Goitrogen alami yang paling penting adalah singkong dan kubis. Sedangkan goitrogen sintetis adalah insektisida, organoklor (DDT, ODD, dan Dieldrin), fungisida dan antibiotik (tetrasiklin) (Matovinovic, 1998).
·         Pengaruh Goitrogen Alami
Goitrogen alami dapat kelompokkan menjadi 3:
1. Kelompok tiosianat atau senyawa mirip tiosianat yang secara primer menghambat mekanisme transport aktif iodium ke dalam kelenjar tiroid. Makanan-makanan tinggi tiosianat adalah singkong, jagung, rebung, ubi jalar dan buncis besar.
2. Kelompok tiourea, tionamide, tioglicoside, bioflavonoid dan disulfide alifatik. Kelompok ini bekerja menghambat organifikasi yodium dan penggabungan yodotirosin dalam pembentukan hormone tiroid aktif. Kelompok ini ditemukan dengan konsentrasi tinggi dalam bahan makanan seperti: sorgum, kacang-kacangan, bawang merah dan garlic.
3. Kelompok yodida. Senyawa ini bekerja pada proses proteolisis dan rilis hormone tiroid.
·         Pengaruh Faktor Goitrogen Sintetis.
Goitrogen sintetis adalah goitrogen yang berasal dari produk obat-obatan seperti obat anti tiroid (thiourasil dan thiourea) atau bahan kimia seperti insektisida atau pestisida yang sering digunakan petani untuk membunuh hama. Penelitian yang dilakukan didaerah pantai Karawang (Sukati, 2001), mengamati bahwa petani tambak bandeng dalam mematikan ikan predator agar tidak mengganggu pertumbuhan bandeng sering menggunakan obat. Ada 2 macam obat yang biasa digunakan yakni: thioda dan obat biru. Keduanya banyak mengandung chlor. Ikan kecil yang mati akibat obat tersebut dikonsumsi oleh masyarakat di sekitar tambak tersebut.
3.      Faktor Zat Gizi Lain
·         Faktor Unsur Kelumit (Trace Elemen)
Timbulnya gondok endemik tidak hanya disebabkan oleh faktor geografis dan lingkungan dapat juga disebabkan oleh faktor unsur kelumit seperti timah hitam (Pb), air raksa (Hg), tembaga (Cu) dan selenium (Se). Faktor unsur kelumit yang penting adalah unsur selenium (Se). Defisiensi Se dapat menyebabkan tubuh rentan terhadap masuknya unsur Pb, Hg dan Cu. Asupan yang berlebih dari Pb dapat menghambat pembentukan hormon tiroid karena Pb akan membentuk ikatan yang kuat dengan yodium (Wardoyo).
·         Faktor Kurang Energi Protein (KEP) dan Kurang Vitamin A (KVA).
Untoro  mengungkapkan bahwa terdapat kemungkinan gangguan penyerapan yodium pada penderita KEP sehingga akan memperberat masalah GAKY di daerah gondok endemik, terutama bila konsumsi yodium terbatas. Kekurangan vitamin A juga berdampak terhadap metabolisme yodium. Penelitian Widardo menunjukkan bahwa anak balita yang diberi intervensi Selenium dan vitamin A terjadi peningkatan status gizi (BB/U, TBAJ) dan status yodium (TSH) lebih baik dibandingkan dengan anak balita pembanding (kontrol).
c.    Spectrum GAKY
Rangkaian gangguan spektrum kekurangan yodium baik secara fisik maupun mental sejak dalam kandungan sampai dewasa sangat bervariasi sesuai dengan tingkat tumbuh kembang manusia. Spektrum GAKY dapat dilihat pada table
Tabel Spektrum GAKY
Tahap Perkembangan
Bentuk Gangguan
Janin
Keguguran (aborsi)
Lahir mati
Kelainan kongenital
Kematian perinatal
Kematian bayi
Kretinisme saraf
Kretinisme miksedema
Kerusakan psikomotor
Bayi baru lahir
Gondok neonates
Hipotiroidisme neonates
Anak & remaja
Gondok
Hipotiroidisme juvenile
Fungsi mental
Perkembangan fisik terhambat
Dewasa
Gondok dan penyulit
Hipotiroidisme
Fungsi mental
Hipertiroidisme diimbas oleh yodium
Semua usia
Kepekaan terhadap radiasi nuklir meningkat
(Dikutip dari: “Trace elements in human nutrition and health”, WHO 1996)
d.   Diagnosis GAKY
Tabel Kriteria Keparahan dan Signifikasi Masalah Kesehatan GAKY
Keparahan
Gambaran klinis
TGR (%)
Rata – rata kadar urine (µg/L)
Prioritas koreksi
G
H
K
Derajat 0 [normal]
0
0
0
<5,0
≤100
-
Derajat I [ringan]
+
0
0
5,0-19,9
50-99
Penting
Derajat II [sedang]
++
+
0
20,0-29,9
20-49
Segera
Derajat III [parah]
++
+++
++
≥30,0
<20
Kritis
Keterangan:
0 = tidak ada; + = ringan; ++ = sedang; +++ = sangat berat
G = goitre; H = hipotiroidisme; K= kretin
TGR = total goitre rate
(Sumber: WHO 1994)
e.    Parameter GAKY
1.      TGR (Total Goiter Rate)
Total goiter rate atau gondok dapat diukur dengan cara palpasi. Pengukuran masa tiroid dengan palpasi adalah metode standar  untuk menilai prevalensi GAKY. Ukuran tiroid lebih tepat pada penilain dasar berat ringannya GAKY dan juga berperan dalam dampak jangka panjang dari pemantaun program (WHO,2001).
Keuntungan metode Palpasi adalah tidak membutuhkan biaya mahal dan relatif mudah dilakukan oleh orang yang sudah di training dan tidak bersifat invasif. Klasifikasi grade palpasi gondok adalah sebagai berikut :
Klasifikasi Gondok
Grade 0
Tidak teraba dan tidak terlihat.
Grade 1
Tidak terlihat pada posisi leher normal tapi
Teraba.
Grade 2
Terlihat apabila menelan dan ketika posisi leher normal.
Sumber : WHO 2001
2.      Yodium urin
Sebagian besar yodium yang diserap tubuh dapat dilihat di urin karena eksresi yodium urin menggambarkan asupan yodium harian. Secara individu eskresi yodium dapat berubah tergantung konsumsi makanan setiap hari. Studi menunjukkan secara meyakinkan profil konsentrasi yodium pagi hari atau sewaktu pada anak atau orang dewasa merupakan penilaian adekuat nutrisi yodium pada populasi. (WHO, 2001).
Tabel kriteria epidemiologis penilaian yang berasal dari makanan yang disantap berdasarkan nilai median kadar yodium urine.
Rata-rata
Kadar Urine (µg/L)
Asupan Yodium
Status Yodium
<20
Tidak cukup
Kurang yodium berat
20-49
Tidak cukup
Kurang yodium sedang
50-99
Tidak cukup
Kurang yodium ringan
100-199
Cukup
Optimal
200-299
Lebih dari cukup
Risiko hipotiroidisme yang diimbas yodium pada 5-10 tahun ke depan setelah suplementasi garam beryodium bagi golongan rentan
>300
Berlebihan
Risiko hipertiroidisme diimbas yodium dan penyakit tiroid autoimmune
(Dikutip dari: “Assessment of IDD and monitoring their elimination”.2nd ed. WHO 2001)

3.      Ultrasonografi
Metode ini aman tidak bersifat invasif. Hasil pemeriksaan sangat signifikan dibandingkan TGR dalam memonitor program kontrol yodium dimana volume Thyroid diharapkan mengecil. Di masa mendatang Ultrsonografi dipertimbangkan untuk digunakan secara luas untuk menilai GAKY (IDD) Berat alat antara 12-15 kg dengan panjang gelombang 7,5 MHz dan harga sekitar $ 15.000. Membutuhkan listrik dan operator terlatih. (WHO, 2001).
4.      Thyroid Stimulating Hormone (TSH)
Kelenjar Pituitary mengeluarkan TSH sebagai respon konsentrasi dari kadar T4 di sirkulasi darah. TSH meningkat ketika T4 rendah, menurun bila T4 meningkat. Defisiensi yodium ditandai dengan rendahnya kadar T4 dalam darah dan meningkatnya TSH. Jadi penderita defisiensi yodium pada populasi umumnya mempunyai serum TSH lebih tinggi Meskipun pemeriksaan nilai TSH cukup akurat pada orang dewasa namun tidak dianjurkan untuk digunakan secara rutin sebagai data survey (WHO, 2001).
TSH pada bayi adalah indikator yang baik untuk kondisi defisiensi yodium. Kadar homon tiroid pada bayi mengandung yodium lebih rendah dibandingkan dengan orang dewasa ini karena pertukaran yodium yang tinggi. Pertukaran tinggi bukanlah hal yang berlebihan pada keadaan defisiensi yodium, sebab terjadi peningkatan stimulasi tiroid oleh TSH. Penyebab TSH meningkat pada bayi dengan keadaan defisiensi yodium adalah fenomena yang disebut Transient Hypertyrotopinemia.
f.     Pencegahan GAKY
Menurut Djokomoeljanto (1993), Upaya pencegahan dan penanggulangan GAKI dilakukan dengan memberikan unsur yodium. Dosis cukup memadai atau adekuat, diberikan secara terus menerus atau kontinyu serta dapat mencapai semua segmen penduduk khususnya yang rawan (daerah endemis). Secara relatif, hanya makanan laut yang kaya akan yodium : sekitar 100 μg/100 gr. Pencegahan dilaksanakan melalui pemberian garam beryodium. Jika garam beryodium tidak tersedia, maka diberikan kapsul minyak beryodium setiap 3, 6 atau 12 bulan, atau suntikan ke dalam otot setiap 2 tahun.
Kegiatan pencegahan dan penaggulangan GAKI yang telah dilakukan oleh pemerintah meliputi komunikasi , informasi dan edukasi (KIE ) terhadap penaggulangan GAKI yang tertuju pada 3 ( tiga ) kelompok sasaran yaitu :
1.      Para perencana, pengelola dan pelaksana program.
2.      Masyasarakat di daerah gondok  endemik.
3.      Masyarakat di luar daerah gondok endemik.

g.   Penanggulangan
Intervensi GAKI terus dilakukan dengan bantuan sejumlah badan dunia. Program intensifikasi penanggulangan GAKI yang berlangsung tahun 1997–2003 bertujuan menurunkan prevalensi GAKI lewat pemantauan status GAKI pada penduduk, meningkatkan persediaan garam beriodium serta meningkatkan kerja sama lintas sektoral. Upaya penanggulangan GAKI sudah dimulai sejak pemerintahan Belanda melalui distribusi garam beryodim ke daerah endemik berat. Penanggulangan GAKI dilakukan dalam dua jangka waktu, yaitu :
1.      Jangka Panjang: suplementasi tidak langsung melalui fortifikasi garam konsumsi dengan iodium dimana program ini disebut garam iodium.
2.      Jangka pendek: suplementasi langsung dengan ,minyak iodium baik secara oral maupun suntikan lipiodol. Upaya ini hanya ditunjukkan pada daerah endemik berat dan telah dilaksanakan sejak tahun 1974.
3.      Kapsul yodium adalah preparat minyak beryodium dengan dosis tinggi dan tiap kapsul berisi 200 mg yodium dalam larutan minyak.
Kapsul yodium diberikan kepada penduduk yang tinggal di daerah endemik sedang dan berat (prevalensi ≤ 20%) setiap tahun sekali dengan ketentuan :
1.      Laki-laki : 0-20 tahun
2.      Perempuan : 0-30 tahun
3.      Semua ibu hamil dan menyusui
Dosis pemberian Kapsul yodium
1.      Bayi 0-1 ½ kapsul/tahun
2.      Balita 1-5 1 kapsul/tahun
3.      Wanita 6-35 2 kapsul/tahun
4.      Pria 6-20 2 kapsul/tahun
5.      Wanita hamil dan menyusui- 2 kapsul/tahun
(Depkes, 2000)
Menurut ketentuan Peraturan Menteri Kesehatan RI 1986, kandungan KIO3 yang dianjurkan adalah 40 ppm. Iodium diperlukan semata – mata untuk biosintesis hormon thyroid yang mengandung iodium. Kebutuhan iodium meningkat pada kaum remaja dan kehamilan. Banyaknya metoda suplementasi Iodium tergantung pada beratnya GAKI pada populasi, grade iodium urine dan prevalensi goiter dan kretinism.
1.      GAKI ringan:
Akan lenyap dengan sendirinya jika status ekonomi penduduk ditingkatkan.
2.      GAKI sedang :
Dapat dikontrol dengan garam berjodium (biasanya 20 – 40 mg/kg pada tingkat rumah tangga). Disamping itu minyak beriodium diberi secara oral atau suntik yang dikoordinasi melalui puskesmas.
3.      GAKI berat :
Penanganannya : minyak beriodium diberikan (secara oral pada 3, 6, dan 12 bulan maupun suntikan setiap 2 tahun) sampai sistim garam berjodium efektif, jika sistim saraf pusat dicegah dengan sempurna.
E.     Sindrom Down
Down sindrom merupakan golongan  penyakit genetik karena cacatnya terdapat pada bahan keturunan/materi genetik, tetapi penyakit ini bukan penyakit keturunan atau karena kuman yang bisa  menular dari penderita ke orang lain (Faradz, 2003). Down sindrom merupakan sindroma kongenital (kelainan bawaan) yang paling sering  terjadi dan juga merupakan penyebab ketidakmampuan intelektual yang paling  sering ditemukan.. Penyebab hal ini masih belum diketahui pasti. Yang dapat disimpulkan sampai saat ini adalah makin tua usia ibu makin  tinggi risiko untuk terjadinya down sindrom. Peluang seorang wanita mempunyai anak dengan down sindrom meningkat bersamaan dengan peningkatan usianya pada saat hamil. Kejadian sindroma Down diperkirakan 1 per 800 hingga 1 per 1000  kelahiran dan Mengenai semua etnis serta seluruh kelompok ekonomi (Selikowizt, 2001).
 Sindroma down merupakan istilah untuk menunjuk anak-anak yang mengalami sekumpulan gejala keterlambatan perkembangan mental. Anak-anak Down Syndrom mempelajari berbagai hal lebih lambat dari pada anak-anak lain sebayanya. Dia mungkin terlambat mulai bergerak, tersenyum, menunjukkan minat pada berbagai hal, menggunakan tangan, duduk, berjalan, berbicara dan lain-lain semuanya mengalami keterlambatan. Anak Down Syndrom mengalami keterlambatan dalam menggunakan tubuh dan pikirannya. Sebabnya dimungkinkan karena kesalahan”kromosom” ketika masih di dalam kandungan (David Werner, 2002).
a.   Penyebab Down Syndrom
Penyebab hal ini masih belum diketahui, tapi ada beberapa faktor yang memungkinkan terjadinya down sindrom ini menurut Juwariah (2009), seperti:
1.      Genetik          
Karena menurut hasil penelitian epidemiologi mengatakan adanya peningkatan resiko berulang bila dalam keluarga terdapat anak dengan down sindrom.

2.      Radiasi           
Ada sebagian besar penelitian bahwa  sekitar 30 % ibu yang melahirkan anak dengan syndrom down pernah mengalami radiasi di daerah sebelum terjadi konsepsi.
3.      Infeksi dan kelainan kehamilan
Terutama autoimun tiroid atau penyakit yang dikaitkan dengan tiroid.
4.      Autoimun dan kelainan endokrin pada ibu.
5.      Umur ibu
Apabila umur ibu diatas 35 tahun diperkirakan terdapat perubahan hormonal yang dapat menyebabkan “non dijunction” pada kromosom. Perubahan endokrin seperti meningkatnya sekresi androgen, menurunnya kadar hidroepiandrosteron, menurunnya konsentrasi estradiolsistemik, perubahan konsentrasi reseptor hormon danpeningkatan kadar LH dan FSH secara tiba-tiba sebelum dan selam menopause. Selain itu kelainan kehamilan juga berpengaruh.
6.      Umur ayah
7.      Faktor lain seperti gangguan intragametik, organisasi nukleolus, bahan kimia dan frekuensi koitus.
b.   Gejala Down Syndrom
Gejala-gejala anak Down Syndrom di antaranya adalah sebagai berikut (David Werner, 2002):
1.      Ketika lahir bayi tampak lemas atau lemah lunglai.
2.      Bayi tidak banyak menangis
3.      Bayi lebih lambat dari bayi lain sebayanya dalam hal berguling, mengambil benda-benda main, duduk, merangkak, berdiri dan berjalan.
4.      Ketia diturunkan tiba-tiba, refleknya tidak baik.
5.      Ada lipatan kulit menutupi sudut dalam kelopak matanya.
6.      Mungkin kelopak matanya merah dan bengkak.
7.      Manik matanya banyak bercak putih seperti pasir
8.      Kepala pendek atau kecil, lebar dan datar di bagian belakang
9.      Kadang panggulnya meleset dari sendi
10.  Wajah pipih
11.  Hidung kecil pesek di antara kedua mata
12.  Tangan pendek dan lebar, jari-jarinya pendek. Kelingking mungkin bengkok atau hanya memiliki satu lipatan
13.  Leher pendek, bahu bundar
14.  Lengan dan tungkai pendek
15.  Tempurung lutut meleset ke satu sisi
16.  Berjari kaki burung dara, kaki datar.
17.  Ibu jari kaki terpisah jauh dari jari-jari lainnya.
Di samping tanda dan gejala tersebut, kemungkinan juga disertai tanda-tanda berikut ini:
1.      Sendi siku, panggul dan pergelangan kaki mungkin sangat kendur dan lentur
2.      Satu di antara 3 anak mempunyai masalah jantung
3.      Mungkin terkena leukemia (kangker darah)
4.      Satu diantara 10 anak ada yang bermasalah tulang leher cacat yang dapat meleset dan menjepit urat saraf di tulang belakang/punggung. Hal ini dapat menyebabkan kelumpuhan.
Anak yang terkena Down Syndrom kondisinya dapat ringan, sedang atau berat. Ada anak yang tidak pernah dapat belajar berbicara, membaca, menulis dan berhitung, tetapi anak sementara anak lain yang mampu melakukan kegiatan belajar, meskipun mengalami keterlambatan.
Anak-anak Down Syndrom yang ringan dan sedang, mereka dapat belajar mengurus kebutuhan mendasar mereka dan membantu pekerjaan yang sederhana. Mereka dapat sekolah, meskipun membutuhkan bantuan dalam beberapa hal. Mereka dapat hidup cukup normal dengan keluarga dan masyarakat sekitarnya.
Ada tiga hal utama yang perlu dilakukan dalam mengasuh anak Down Syndrom .
1.      Bantulan anak mengembangkan kemampuan fisik dan mentalnya,.
2.      Lindungilah anak dari penyakit menular.
3.      Cegah dan koreksilah fisik anak apabila ada penyimpangan, diantaranya dengan melakukan pemeriksaan fisik secara dini dan segera merujuk ke terapis apabila menjumpai penyimpangan organ gerak.
c.    Pencegahan
Pencegahan dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan kromosom melalui amniocentesis bagi para ibu hamil terutama pada bulan-bulan awal kehamilan. Terlebih lagi ibu hamil yang pernah mempunyai anak dengan sindrom down atau mereka yang hamil di atas usia 40 tahun harus dengan hati-hati memantau perkembangan janinnya karena mereka memiliki risiko melahirkan anak dengan sindrom down lebih tinggi. Sindrom down tidak bisa dicegah, karena DS merupakan kelainan yang disebabkan oleh kelainan jumlah kromosom. Jumlah kromosom 21 yang harusnya cuma 2 menjadi 3. Penyebabnya masih tidak diketahui pasti, yang dapat disimpulkan sampai saat ini adalah makin tua usia ibu makin tinggi risiko untuk terjadinya DS.
Diagnosis dalam kandungan bisa dilakukan, diagnosis pasti dengan analisis kromosom dengan cara pengambilan CVS (mengambil sedikit bagian janin pada plasenta) pada kehamilan 10-12 minggu) atau amniosentesis (pengambilan air ketuban) pada kehamilan 14-16 minggu. Konseling Genetik maupun amniosentesis pada kehamilan yang dicurigai akan sangat membantu mengurangi angka kejadian Sindrom Down. Dengan Biologi Molekuler, misalnya dengan “gene targeting“ atau yang dikenal juga sebagai “homologous recombination“ sebuah gen dapat dinonaktifkan (Rex, 1982).
d.   Pengobatan
Sampai saat ini belum ditemukan metode pengobatan yang paling efektif untuk mengatasi kelainan ini. Pada tahap perkembangannya penderita Down syndrom juga dapat mengalami kemunduran dari sistim penglihatan, pendengaran maupun kemampuan fisiknya mengingat tonus otot-otot yang lemah. Dengan demikian penderita harus mendapatkan dukungan maupun informasi yang cukup serta kemudahan dalam menggunakan sarana atau fasilitas yang sesuai berkaitan dengan kemunduran perkembangan baik fisik maupun mentalnya.
Walaupun secara jumlah meningkat, namun penderita down syndrome lebih banyak yang berprestasi dan hidup lebih lama dibanding orang dengan kehidupan yang lebih berkecukupan. Dengan kata lain, harapan hidup dan mutu kehidupan para penderitadown syndrome jauh meningkat beberapa tahun terakini. Perbaikan kualitas hidup pengidap down sindrom dapat terjadi berkat perawatan kesehatan, pendekatan pengajaran, serta penanganan yang efektif.
Stimulasi sedini mungkin kepada bayi yang DS, terapi bicara, olah tubuh, karena otot-ototnya cenderung lemah. Memberikan rangsangan-rangsangan dengan permainan-permainan layaknya pada anak balita normal, walaupun respons dan daya tangkap tidak sama, bahkan mungkin sangat minim karena keterbatasan intelektualnya. Program ini dapat dipakai sebagai pedoman bagi orang tua untuk memberi lingkunga yang memeadai bagi anak dengan syndrom down, bertujuan untuk latihan motorik kasar dan halus serta petunjuk agar anak mampu berbahasa. Selain itu agar ankak mampu mandiri sperti berpakaian, makan, belajar, BAB/BAK, mandi,yang akan memberi anak kesempatan (Rex, 1982).

                                   
BAB III
METODE PELAKSANAAN

A.    Waktu dan Tempat
Waktu
Praktikum ini dilakukan pada hari kamis tanggal 7 Mei 2015.
Tempat
Praktikum ini dilakukan di Balai Penelitian dan Pengembangan GAKI, Kecamatan Borobudur Kabupaten Magelang.

B.     Cara Pengambilan Data
Data diambil dari responden menggunakan data sekunder atau dokumentasi yaitu berupa dokumen atau catatan pengunjung yang disebut data rekam medik pasien di Balai Penelitian dan Pengembangan GAKI. Sedangkan data penunjang lain dan penjelasan mengenai status kesehatan responden didapat dari keterangan dokter yang memeriksa responden serta dari petugas-petugas lain di Balai Penelitian dan Pengembangan GAKI.

C.    Analisis Data
Proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber, yaitu data rekam medik, pengamatan, yang sudah ditulis dalam catatan lapangan, dokumen pribadi, dokumen resmi, gambar foto, setelah dibaca, dipelajari, dan ditelah maka langkah berikutnya adalah mengadakan reduksi data yang dilakukan dengan membuat rangkuman langkah selanjutnya adalah penafsiran data.


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A.    Hasil
Melalui data rekam medik responden diperoleh hasil sebagai berikut:
Nama                     : AM
Alamat             : Dusun Andong Sili RT.05 RW.02 Mojotengah Wonosobo
Umur               : 52 tahun
Berat badan     : 53,1 kg
Tinggi badan   : 158,8 cm
Anggota keluarga lainnya
No
Nama
Status
L/P
Tgl lahir
Umur
Pendidikan
Pekerjaan
1.
AM
Ayah
L
6 Juli 1962
52 tahun
SMA
PNS

a.       Hasil palpasi                :
·         Grade                  : 2
·          Tanda fisik          : Ada benjolan dan tyroid teraba
·         Keluhan awal      : Munculnya benjolan
b.      Hasil tes urin   :
·         Tidak diketahui adanya tes urin di dalam data rekam medik pasien.
c.       Hasil Tes Darah           :
·         Tes TSH Serum   = 0,02 dari kondisi normal = 0,3 – 6,2
·         Tes FT4                = 1,45 dari kondisi normal = 0,8 – 2 μG/mL
d.      Status kesehatan :
·         Responden memiliki penyakit lain yaitu deabetes melitus dan gondok.
e.       Riwayat keluarga        :
·         Responden tidak memiliki keluarga lain dengan gangguan GAKI.
·         Responden tidak memiliki anggota keluarga lain yang mengalami lahir mati.
·         Responden tidak memiliki anggota keluarga lain yang mengalami cacat bawaan.
·         Responden tidak memiliki anggota keluarga lain yang mengalami keguguran.
·         Responden tidak memiliki anggota keluarga lain yang mengalami keterbelakangan mental.
·         Responden tidak memiliki anggota keluarga lain yang mengalami kretin.
f.       Pengetahuan responden tentang GAKY        :
Secara keseluruhan responden tahu tentang GAKY, tanda-tanda, penyebab dan penanganan yang tepat untuk mengatasi GAKY. Namun responden tidak menggunakan garam beryodium dirumah, responden juga tidak mengetahui berapa sebaiknya penambahan iodium dalam garam dan cara menyimpan garam beryodium yang benar. Responden juga tidak mengetahui apa itu zat goitrogenik serta bahan makanan yang mengandung zat goitrogenik. 

B.     Pembahasan
Karakteristik responden yang kami dapat dalam praktikum ini berinisial AM, responden bertempat tinggal di Desa Andong Sili RT. 05 RW. 02 Mojotengah Wonosobo. Responden lahir pada tanggal 6 Juli 1962, mempunyai berat badan 53,1 kg dan tinggi badan 158,8 cm. Responden berstatus sebagai ayah, dengan pendidikannya yaitu SMA dan pekerjaanya sebagai seorang PNS.
Berdasarkan data rekam medik yang di dapat, diketahui bahwa responden memiliki penyakit lain yaitu diabetes mellitus. Dalam catatan medik status kesehatan, responden tidak menderita penyakit lain kecuali diabetes mellitus dan gondok.
Data rekam medik menunjukan kondisi pasien mengalami hipertiroid, kemudian terdapat pembesaran kelenjar di bagian leher. Berdasarkan data diketahui bahwa responden masih mengkonsumsi obat thyrozol dan propenol.
Gejala yang timbul berdasarkan data rekam medik responden yaitu :

1.   Berdebar-debar
2.   Kelelahan
3.   Keringat berlebih 
4.   Nafsu akan bertambah dan berkurang
5.   Berat badan kurang
6.   Kelenjar tiroid teraba
7.   Tremor jari
8.   Tangan basah
9.   Hipertensi

Berdasarkan tes palpasi diketahui bawha responden masuk dalam derajat atau grade 2. Ada tanda fisik yang nampak yaitu berupa pembesaran kelenjar di bagian leher dan kelenjar tiroid teraba. Pada data rekam medik hasil tes urin tidak diketahui karena responden tidak melakukan tes urin. Sedangkan pada peeriksaan tes darah didapat hasil sebagai berikut :
Tes TSH Serum           = 0,02 dari kondisi normal 0,3-6,2
Tes FT4                       = 1,45 dari kondisi normal 0,8-2 μg/ml
Berdasarkan hasil data pemeriksaan yang telah dilakukan responden di BP2GAKY sebagai berikut:
1.      Pemeriksaan Psikologi (BAI) 
Hasil skor 16 dan kategori 3
2.      Pemeriksaan USG
3.      Pemeriksaan Fisik :
a.       Kunjungan ke-4 :  - Tekanan Darah = systole 122 mmHg,
                            diastole 61 mmHg.
-    Nadi  = 81 kali/ menit
b.      Kunjungan ke-5 :  - Tekanan Darah = systole 126 mHg,
    diastole 69 mmHg
-    Nadi = 79 kali/menit
Laporan hasil uji :
1.      Tanggal 20 Agustus 2014             : Nama sampel = serum
              Jenis Pengujian = TSH
              Metode Pengujian = ELISA
Hasil = 0,02 μg/L dari kondisi normal     0,3-0,4 μg/L
2.      Tanggal 11 November 2014          : Hasil = 3,21 μg/L
3.      Jenis Pengujian FT4                      : Hasil = 1,45 μg/ml
  Normal = 0,8-2,0 μg/ml
Riwayat keluarga responden menunjukkan bahwa tidak ada anggota keluarga yang mengalami gejala GAKI, lahir mati, cacat bawaan, keguguran, keterbelakangan mental maupun mengalami kretin.
Pengetahuan tentang GAKI, kami peroleh dari hasil data rekam medik di BP2GAKY dengan responden berinisial  AM. Dari hasil data rekam medik diperoleh bahwa responden mengetahui tentang GAKI. Responden juga mengetahui tentang hipertiroid yang merupakan salah satu akibat GAKI dan mengetahui cara mengatasi hipertiroid. Selain itu responden juga mengetahui tanda-tanda GAKI yaitu pembesaran kelenjar di bagian leher. Berdasarkan data rekam medik responden mengetahui penyebab GAKI yaitu kerena kekurangan yodium atau kekurangan mengkonsumsi garam yang beryodium. Berdasarkan data responden juga mengetahui manfaat dan cara penanganan yang tepat untuk mengatasi GAKI. Namun responden tidak menggunakan garam beryodium dirumah mereka, selain itu responden tidak mengetahui berapa sebaiknya penambahan iodium dalam garam dan bagaimana penyimpanan garam yang benar. Berdasarkan data rekam medik juga tertera bahwa responden tidak mengetahui tentang zat goitrogeni dan bahan makanan apa saja yang mengandung zat goitrogenik tersebut. 
Dari kuisioner pengetahuan tentang GAKY dilakukan pembobotan.
No.
Pertanyaan ke-
Jawaban
Skor
1.
Pertanyaan 1
Ya
1
2.
Pertanyaan 2
Ya
1
3.
Pertanyaan 3
Ya
1
4.
Pertanyaan 4
Tidak
0
5.
Pertanyaan 5
Ya
1
6.
Pertanyaan 6
Tidak
0
7.
Pertanyaan 7
Tidak ada data yang tersedia
0
8.
Pertanyaan 8
Tidak
0
9.
Pertanyaan 9
Tidak
0
10.
Pertanyaan 10
Ya
1
 Catatan: keterangan pertanyaan dapat di lihat pada lampiran hasil kuisioner

Total skor:  0-3   = pengetahuan kurang
                         4-6   = pengetahuan sedang
                          7-10 = pengetahuan baik
Hasil pembobotan mendapat total skor 5, sehingga dapat disimpulkan bahwa responden memiliki tingkat pengetahuan yang sedang mengenai GAKY. Tingkat pengetahuan seseorang merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kejadian GAKY. Seseorang dengan tingkat pengetahuan rendah maka memiliki risiko yang lebih besar untuk mengalami GAKY, sedangkan seseorang dengan tingkat pengetahuan yang tinggi memiliki risiko kecil untuk mengalami GAKY.
Merujuk pada data dan pengamatan yang dilakukan maka dapat diperkirakan responden mengalami hipertiroid,  hal ini didasarkan pada tanda yang timbul pada responden yaitu benjolan di daerah leher, selain itu responden juga tinggal di daerah endemik. Responden memiliki pengetahuan yang sedang mengenai GAKY, dari uraian diatas menunjukkan bahwa responden memiliki banyak faktor resiko terjadinya GAKY sehingga dapat diperkirakan benjolan yang dialami responden adalah tanda dari GAKY yang berupa pembesaran kelenjar tiroid dengan didukung data pemeriksaan laboratorium yang telah dilakukan responden.


BAB V
SIMPULAN DAN SARAN

A.    Kesimpulan
Iodium merupakan zat gizi essensial bagi tubuh, karena merupakan komponen dari hormon thyroxin. Terdapat dua ikatan organik yang menunjukkan bioaktivitas hormon ini, yaitu trijodotyronin (T3), tetrajodotyronin (T4) atau thyroxin.
Yodium terdapat dalam makanan dalam bentuk yodide, yang secara umum berikatan dengan asam amino. Yodide diserap usus dengan cepat dan diasimilasi oleh kelenjar Tiroid untuk digunakan dalam produksi hormon Tiroid. Yodium merupakan bagian dari asam amino sebagai tyrosine yang tidak banyak diserap.
Gangguan akibat kekurangan yodium adalah sekumpulan gajala yang dapat ditimbulkan karena tubuh seseorang kekurangan unsur yodium secara terus-menerus dalam waktu cukup lama. (DepKes RI, 2000). Faktor penyebab GAKY diantaranya yaitu faktor geografi, factor lingkungan, factor bahan pangan goitrogenik dan factor lain-lain.
Penanggulangan GAKI dilakukan dalam dua jangka waktu, yaitu jangka panjang dan jangka pendek. Jangka panjang yaitu dengan suplementasi tidak langsung melalui fortifikasi garam konsumsi dengan iodium dimana program ini disebut garam iodium. Sedangkan jangka pendek yaitu dengan suplementasi langsung dengan ,minyak iodium baik secara oral maupun suntikan lipiodol.
Praktikum yang dilakukan merupakan suatu study lapangan yang bertujuan untuk melihat langsung permasalahan GAKY di daerah endemik, praktikum dilakukan dengan pengambilan data sekunder sebagai penunjang dari petugas kesehatan di Balai Penelitian dan Pengembangan GAKY. Alur penanganan pasien yang datang ke BP2GAKY yaitu mulai dari pasien datang kemudian diperiksa oleh dokter, dokter dapat merujuk pasien ke laboratorium, bagian psikologi TumBang atau ke bagian gerak motorik kasar.
Berdasarkan data yang didapat diketahui responden sudah datang beberapa kali untuk melakukan pemeriksaan ke BP2GAKY sehingga diketahui hasil tes laboratorium yang memastikan penyebab dari benjolan yang diduga disebabkan karena GAKY, dari hasil data rekam medik diketahui responden menderita hipertiroid,  hal ini didasarkan pada tanda yang timbul pada responden yaitu benjolan di daerah leher, selain itu responden juga tinggal di daerah endemik. Responden juga memiliki pengetahuan yang sedang mengenai GAKY, dari uraian diatas menunjukkan bahwa responden memiliki banyak faktor resiko terjadinya GAKY sehingga dapat diperkirakan benjolan yang dialami responden adalah tanda dari GAKY yang berupa pembesaran kelenjar tiroid dengan didukung data pemeriksaan laboratorium yang telah dilakukan responden.

B.     Saran
1.      Saran untuk Pemerintah
a.       Program penanggulangan GAKY baik yang jangka pendek maupun jangka panjang harus terus berlanjut
b.      Pengawasan dan pemantauan terhadap defisiensi cadangan makanan yang mengandung yodium di seluruh masyarakat terutama pada daerah pegunungan
c.       Mendistribusikan makanan yang mengandung yodium keseluruh masyarakat (garam beryodium)
d.      Mensosialisasikan masalah GAKY pada masyarakat (misalnya iklan di televisi)
2.      Saran untuk Petugas Kesehatan
a.       Mensosialisasikan tentang pentingnya asupan yodium bagi kesehatan
b.      Mensosialisasikan tentang anjuran asupan yodium yang disarankan
c.       Mengawasi, memantau dan segera menindak lanjuti jika terdapat masyarakat yang mengalami GAKY
3.      Saran untuk Masyarakat
a.        Mengkonsumsi garam yang mengandung yodium
b.       Memperhatikan jumlah asupan yodium
c.        Menyimpan garam beryodium dengan benar

 
DAFTAR PUSTAKA
Arisman MB. 2004. Gizi dalam Daur Kehidupan. EGC. Jakarta.
BP2GAKI. 2012. http://www.bpgaki.litbang.depkes.go.id/. Diakses pada tanggal 14 Mei 2015.
David Werner. 2002. Anak-Anak Desa Yang Menyandang Cacat. Malang: Bakti Luhur.
Depkes, RI. 2000. Pedoman Pelaksanaan Pemantauan Garam Beryodium di Tingkat Masyarakat. Jakarta : Depkes RI
Djokomoeljanto R. 2002. Evaluasi Masalah Gangguan Akibat kekurangan Yodium (GAKY) Di Indonesia. Jurnal GAKY. Desember Vol.3 No 1.p:31-39
Djokomoeldjanto, R.  1994. Hipotiroidi di Daerah Defisiensi Iodium. Kumpulan Naskah Simposium GAKI. Hal. 35-46. Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang.
Djokomoelyanto. 1998.  Gangguan Akibat Defisiensi iodium dan gondok endemik. Dalam Ilmu Penyakit Dalam. Edisi III : S.Noer (Ed). Penerbit buku kedokteran EGC. Jakarta.
Faradz, Sultana MH. 2003. Mengenal Sindroma Down. http://www.suaramerdeka. com/harian/0301/08/nas13.htm. Diakses pada tanggal 07 Juni 2012.
Juwariah. 2009. Dukungan Sosial Keluarga terhadap Anak Down Sindrom di Yayasan Pembina Anak Cacat (YPAC) Medan. Skripsi. Program Studi Ilmu Keperawatan S1 Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara. Medan
Kodyat, B. 1996. Nutritional in Indonesia : Problems, Trends, Strategy and Program Directorate of community Nutrition, Departemen Health, Jakarta
Matovinovic, J. Yodium. Dalam RE Olson (Ed). Pengetahuan Gizi Mutakhir: Mineral. Gramedia, Jakarta. 1998(227-249). Treatise. Chicago. Year Book Medical Publisher.p.263-280. 1986 b.
Palupi. 2008. Garam Beryodium. http://Kuliahbidan.Wordpress.com/2008/10/12/Garamberyodium/ di akses tanggal 14 Mei 2015.
Picauly, Intje. 2002. Iodium  dan  Gangguan  Akibat  Kekurangan  Iodium (gaki). http://rudyct.com/PPS702-ipb/05123/intje_picauly.htm. Diakses tanggal 14 Mei 2015.
Rex A.P, Preus M. 1982. A diagnostic index for Down syndrome. J Pediatr.
Rusiawati, Yuyus dan Smengen Sutomo. 1993.Penanggulangan Gangguan Akibat Kekurangan Iodium di Indonesia. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI. Jakarta.
Sediaoetama, Ahmad Djaelani. 2006. Ilmu Gizi II. Dian Rakyat. Jakarta.
Selikowizt, Mark. 2001. Alih Bahasa Surjadi Rini. Buku Seri Keluarga : Mengenal Sindroma Sown. Arcan. Jakarta.
Soehardjo. 1990. Petunjuk Laboratorium Penilaian Keadaan Gizi MasyarakatPAU Pangan dan Gizi. IPB. Bogor.
Sukati S., dkk. Hubungan Status Pestisida dan Status Iodium dalam Darah Pada Wanita Usia Subur Di daerah Gondok Endemik. Laporan Akhir Penelitian, 2005.
Sunita Almatsier. 2010. Prinsip Dasar Ilu Gizi. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Thesa. 2009. GAKI (Gangguan Akibat Kekurangan Iodium). http://dokterthesa. wordpress.com/2009/06/25/gaki/. Diakses pada tanggal 14 Mei 2015.
Wahab A, Beener A, Teebi SA. 2006. The Incidence Patterns Of Down Syndrome In Qatar. Clin Genet. Qatar.
Wardoyo, Pengaruh Pemberian Kapsul Yodol terhadap Status Gondok Anak SD di Daerah Gondok Endemik Berat di Kabupaten Wonosobo. Tesis IPB, Bogor. 1998.
WHO. Trace Element in Human Nutrition and Health. World health Organization, Geneva. 1996.
Widardo.Effect of Selenium in addition to Vitamin A and Iodine Supplementation on the goiter size in School Children in Central Java. Thesis S2. SEAMED. University of Indonesia. Jakarta. 1998.
Wright A, Hastie N. 2007. Genes and Common Disease. Cambridge University Press. New York.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar