Tinkerbell Glitter Public Health: Semester4 EPMTM

Kamis, 14 Mei 2015

Semester4 EPMTM



Epideiologi Penyakit Menular dan Tidak Menular 
LANSIA DAN OSTEOPOROSIS
BAB I

PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang
Keberadaan lansia ditandai dengan umur harapan hidup yang semakin meningkat dari tahun ke tahun. Hal tersebut membutuhkan upaya pemeliharaan serta peningkatan kesehatan dalam rangka mencapai masa tua yang sehat, bahagia, berdaya guna, dan produktif (Maryam dkk, 2011). Pada tahun 2000 jumlah lansia di Indonesia diproyeksikan sebesar 7,28% dan pada tahun 2020 diperkirakan jumlah lansia mengalami peningkatan sebesar 11,34% (BPS, 1992). Bahkan data Biro Sensus Amerika Serikat memperkirakan Indonesia akan mengalami pertambahan warga lanjut usia terbesar di seluruh dunia pada tahun 1990-2025, yaitu sebesar 414% (Kinsella dan Taeuber, 1993).
Perkiraan peningkatan jumlah lansia tersebut harus diimbangi dengan adanya upaya dari pemerintah untuk tetap menjaga kesejahteraan bagi lansia. Dengan meningkatnya jumlah lansia maka akan membutuhkan penanganan yang serius karena secara alamiah lansia itu mengalami kemunduran, baik secara fisik, biologi, maupun mentalnya. Menurunnya fungsi berbagai organ tubuh akan membuat lansia menjadi rentan terhadap penyakit yang bersifat akut atau kronis.
Salah satu penyakit yang biasanya sering terjadi pada lansia adalah osteoprosis. Osteoporosis merupakan kondisi penurunan masa tulang dan gangguan struktur tulang (perubahan mikroarsitektur jaringan tulang) sehingga tulang menjadi mudah patah. Biasanya orang yang terkena osteoporosis akan mengalami sakit dan pegal-pegal dibagian punggung atau daerah tulang tersebut. Postur tubuh orang yang menderita osteoporosis akan terlihat membungkuk dan terasa nyeri pada tulang yang mengalami kelainan tulang.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan lansia dan bagaimana karakteristik pada lansia ?
2.      Perubahan apa saja yang terjadi pada lansia ?
3.      Masalah kesehatan apa saja yang terjadi pada lansia ?
4.      Bagaimana upaya kesehatan yang dapat diberikan untuk lansia ?
5.      Apakah definisi osteoporosis ?
6.      Bagaimana patofisiologi osteoporosis yang terjadi pada lansia ?
7.      Apa saja etiologi dari osteoporosis ?
8.      Bagaimana tanda dan gejala dari osteoporisis ?
9.      Apa saja faktor resiko terjadinya osteoporosis pada lansia ?
10.  Bagaimana upaya pencegahan dan penanganan osteoporosis pada lansia ?
C.    Tujuan
1.      Mengetahui konsep lansia dan karakteristik lansia
2.      Mengetahui perubahan pada lansia
3.      Mengetahui masalah kesehatan yang terjadi pada lansia
4.      Mengetahui upaya kesehatan yang diberikan pada lansia
5.      Mengetahui definisi osteoporosis
6.      Mengetahui patofisiologi osteoprosis pada lansia
7.      Mengetahui etiologi osteoporosis
8.      Mengetahui tanda dan gejala osteoporosis
9.      Mengetahui faktor resiko osteoporosis pada lansia
10.  Mengetahui upaya pencegahan dan penanganan osteoporosis pada lansia

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian dan Karakteristik Lansia
Lansia (lanjut usia) adalah kelompok penduduk berumur tua. Golongan penduduk yang mendapat perhatian atau pengelompokkan tersendiri ini adalah populasi berumur 60 tahun atau lebih. Menjadi tua merupakan suatu fenomena alamiah sebagai akibat proses menua. Fenomena ini bukanlah suatu penyakit, melainkan suatu keadaan yang wajar yang bersifat universal. Proses menua bersifat regresif  dan mencakup proses  organobiologis, psikologik serta sosiobudaya. Menjadi tua ditentukan secara genetik dan dipengaruhi oleh gaya hidup seseorang (Simanullang, 2012). WHO mengelompokkan usia lanjut atas tiga kelompok :

1. Kelompok middle age (45-59)
2. Kelompok elderly age (60-74)

3. Kelompok old age (75-90)

Ada pun klasifikasi lansia (Maryam dkk, 2011) adalah :
1)        Pralansia (prasenilis) yaitu seseorang yang berusia antara 45-59 tahun
2)        Lansia yaitu seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih
3)        Lansia resiko tinggi yaitu seseorang yang berusia 70 tahun atau lebih, atau seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih dengan masalah kesehatan (Depkes RI, 2003)
4)        Lansia potensial yaitu lansia yang masih mampu melakukan pekerjaan dan atau kegiatan yang dapat menghasilkan barang/jasa
5)        Lansia tidak potensial yaitu lansia yang tidak berdaya mencari nafkah, sehingga hidupnya bergantung kepada orang lain.

Dengan bertambahnya usia, lansia memiliki suatu karakteristik. Karakteristik lansia tersebut dapat digunakan untuk mengetahui keberadaan masalah kesehatan pada lansia. Ada pun karakteristik tersebut adalah :
1)        Jenis Kelamin
Lansia lebih banyak berjenis kelamin wanita. Dengan mengetahui hal tersebut, dapat diketahui kebutuhan lansia dan masalah kesehatan yang berbeda antara lansia pria dan wanita. Misalnya, lansia laki-laki berurusan dengan masalah hipertropi prostat, sedangkan wanita mungkin menghadapi osteporosis.
2)        Status Perkawinan
Status perkawinan akan berpengaruh pada kesehatan lansia secara fisik maupun psikologis.
3)        Kondisi Kesehatan
Kondisi kesehatan berpengaruh pada sifat bergantung kepada orang lain. Selain itu, kondisi kesehatan juga berpengaruh pada ke-produktif-an lansia.
4)        Keadaan Ekonomi

B.     Perubahan pada lansia
Menurut Bustan (dalam Simanullang, 2011), secara umum kondisi fisik seseorang yang telah memasuki masa lanjut usia mengalami penurunan. Hal ini dapat dilihat dari beberapa perubahan: (1) perubahan penampilan pada bagian wajah, tangan, dan kulit, (2) perubahan bagian dalam tubuh seperti sistem saraf: otak, isi perut: limpa, hati, (3) perubahan panca indra: penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa, dan (4) perubahan motorik antara lain berkurangnya kekuatan, kecepatan di dalam bergerak. Perubahan-perubahan tersebut pada umumnya mengarah pada kemunduruan kesehatan fisik dan psikis yang secara umum akan berpengaruh pada aktivitas kehidupan sehari-hari (Watson, 2003; Nugroho, 2008).
Selain perubahan fisik, pada lansia juga terjadi perubahan secara sosial dan psikologis. Perubahan sosial yang terjadi antara lain terjadi pada peran, seperti post power syndrome, single woman, single parent. Selain itu lansia dapat saja menjadi kurang dapat menyesuaikan diri dan merasa tidak memiliki fungsi lagi. Perubahan secara psikologis diantaranya short term memory, frustasi, takut menghadapi kematian, depresi, kecemasan, dan lain-lain.

C.    Masalah kesehatan yang terjadi pada lansia
Seiring bertambahnya usia, maka akan terjadi kemunduran organ tubuh. Namun, menjadi tua bukanlah suatu penyakit atau sakit, tetapi suatu proses perubahan di mana kepekaan bertambah atau batas kemampuan beradaptasi menjadi berkurang, atau yang sering dikenal dengan geriatric giant. Dalam hal ini, lansia akan mengalami 13 i yaitu imobilisasi;instabilitas (mudah jatuh); intelektualitas terganggu (demensia); isolasi (depresi); inkontinensia; impotensi; imunodefisiensi; infeksi (mudah terjadi); impaksi (konstipasi); iatrogenesis (kesalahan diagnosis); insomnia; impairment of (gangguan pada) penglihatan, pendengaran, pengecapan, penciuman, komunikasi, dan integritas kulit; dan inaniation (malnutrisi).
Secara individu pengaruh proses ketuaan menimbulkan berbagai masalah. Salah satu permasalahan yang berkaitan dengan penduduk lansia adalah permasalahan kesehatan, sebab perjalanan penyakit pada lansia mempunyai ciri tersendiri yaitu bersifat menahun, semakin berat dan sering kambuh.  Masalah kesehatan lansia sangat bervariasi, selain erat kaitannya dengan degeneratif juga secara  progresif  tubuh akan kehilangan daya tahan terhadap infeksi. penyakit atau gangguan yang menonjol pada kelompok lansia adalah: gangguan pembuluh darah (dari hipertensi sampai stroke), gangguan metabolik (Diabetes Mellitus), gangguan persendian (arthritis, encok dan terjatuh),  gangguan psikososial (kurang penyesuaian diri dan merasa tidak berfungsi lagi).
Ada beberapa sifat penyakit pada lansia yang membedakannya dengan penyakit pada orang dewasa, yaitu :
·      Penyebab penyakit
Penyebab penyakit pada lansia pada umumnya berasal dari dalam tubuh (endogen), sedangkan pada orang dewasa berasal dari luar tubuh (eksogen). Hal ini disebabkan pada lansia telah terjadi penurunan fungsi dari berbagai organ-organ tubuh akibat kerusakan sel-sel karena proses menua(menjadi tua), sehingga produksi hormon, enzim, zat-zat yang diperlukan untuk kekebalan tubuh menjadi berkurang sekali akibat kerusakan sel-sel tadi, dan dengan demikian lansia akan lebih mudah mendapat infeksi.
Sering pula, penyakit lebih dari satu jenis (multipatologi), yang satu sama lain dapat berdiri sendiri maupun saling berkaitan dan memperberat, dan penyakit sering telah ada di tubuh penderita sebelum menimbulkan gejala-gejala maupun tanda-tanda, seolah-olah telah menyelinap selama ini. Demikian pula, pengobatan terhadap penyakitnya akan lebih sulit karena penyakitnya yang lebih dari satu jenis.


·      Gejala penyakit sering tidak khas/tidak jelas
Sangat penting untuk diketahui bahwa gejala penyakit pada lansia seringkali tidak khas/tidak jelas, yang berbeda dengan penyakit yang ditemukan pada orang dewasa. Misalnya, penyakit infeksi paru mendadak (pneumonia) seringkali tidak didapati demam tinggi dan batuk darah, gejala hanya ringan saja kelihatannya sedangkan penyakit sebenarnya cukup serius, sehingga penderitanya menganggap penyakitnya ringan saja dan tidak perlu berobat.

·      Memerlukan lebih banyak obat
Akibat penyakit pada lansia yang lebih dari satu jenis maka dalam pengobatannya akan memerlukan obat-obat yang beraneka ragam jenisnya dibandingkan dengan orang dewasa. Selain itu, perlu diketahui bahwa fungsi organ-organ vital tubuh seperti hati, ginjal, yang berperanan di dalam mengolah obat-obat yang masuk ke dalam tubuh telah berkurang, yang menyebabkan kemungkinan yang lebih besar dari obat-obat tersebut untuk menumpuk dalam tubuh dan menyebabkan keracunan obat dengan segala komplikasinya, jika obat-obat tersebut diberikan dengan takaran yang sama dengan orang dewasa, dan karena itu, takaran obat perlu dikurangi pada lansia dengan prinsip start slow go slow, yaitu mulai menggunakan obat dengan takaran yang serendah mungkin yang masih mempunyai efek pengobatan dan naikkan secara perlahan-lahan sampai tercapai efek pengobatan seoptimal mungkin.. Efek samping obat sering pula terjadi pada lansia, yang menyebabkan timbulnya penyakit-penyakit baru akibat pemberian obat tadi (iatrogenik), misalnya terjadinya beser buang air kecil akibat pemakaian obat yang meningkatkan pengeluaran air seni (diuretik), merasa hoyong dan terjatuh akibat penggunaan obat-obat penurun tekanan darah, penenang, antidepresi dan lain-lain. Efek samping obat pada lansia biasanya terjadi karena diagnosa yang tidak tepat, ketidakpatuhan penderita meminum obat menurut aturan yang ditentukan, pengguinaan obat yang berlebihan dan berulang-ulang dalam waktu yang lama. Ketidakpatuhan untuk meminum obat-obat yang sedang dipakai sering terjadi pada lansia, terutama pada mereka yang menderita cacat fisik maupun mental. Ketidakpatuhan meminum obat akan meningkat dengan semakin banyaknya jenis obat yang digunakan dengan kerumitan aturan pemakaian obat yang digunakan. Oleh karena itu, hendaknya diberikan sesedikit mungkin jenis obat, dan jika memungkinkan dalam takaran yang mudah diingat (misalnya sekali sehari pemakaiannya).

·      Sering mengalami gangguan jiwa
Penyakit pada lansia sering mengalami gangguan fisik dan psikis (jiwa) secara bersamaan, khususnya pada mereka yang telah lama menderita sakit sering mengalami tekanan jiwa ( depresi ), sehingga di dalam pengobatannya tidak hanya gangguan fisiknya saja yang diobati meskipun hanya ini yang dikeluhkan, tetapi juga gangguan jiwanya yang justru sering tersembunyi gejalanya, yang jika yang mengobatinya tidak teliti, akan mempersulit penyembuhan penyakitnya. Sehubungan dengan uraian tersebut di atas. maka penanganan penyakit pada lansia memerlukan ketrampilan khusus, walaupun gejalanya ringan tetapi memerlukan penanganan yang serius, karena keterlambatan di dalam penanganannya dapat merupakan ancaman yang besar bagi keselamatan jiwa penderita lansia

D.    Upaya kesehatan yang diberikan pada lansia
Jenis pelayanan kesehatan terhadap lansia meliputi lima upaya kesehatan, yaitu peningkatan (promotion), pencegahan (prevention), diagnosis dini dan pengobatan (early diagnosis and prompt treatment), pembatasan kecacatan (disability limitation), serta pemulihan (rehabilitation).
1.    Promotif
Upaya promotif merupakan tindakan secara langsung dan tidak langsung untuk meningkatkan derajat kesehatan dan mencegah penyakit. Upaya promotif juga merupakan proses advokasi kesehatan untuk meningkatkan dukungan klien, tenaga profesional, dan masyarakat terhadap praktik kesehatan yang positif menjadi norma-norma sosial. Upaya promotif dilakukan untuk membantu orang-orang mengubah gaya hidup mereka dan bergerak kearah keadaan kesehatan yang optimal serta mendukung pemberdayaan seseorang untuk membuat pilihan yang sehat tentang perilaku hidup mereka.
Upaya perlindungan kesehatan bagi lansia adalah sebagai berikut :
·      Mengurangi cedera
·      Meningkatkan keamanan di tempat kerja
·      Meningkatkan perlindungan dari kualitas udara yang buruk.
·      Meningkatkan keamanan
·      Meningkatkan perhatian terhadap kebutuhan gigi dan mulut

2.    Preventif
·      Pencegahan primer, meliputi pencegahan pada lansia sehat, terdapat faktor risiko, tidak ada penyakit dan promosi kesehatan. Jenis pelayanannya adalah program imunisasi, konseling, dukungan nutrisi, exercise, keamanan didalam dan sekitar rumah, manajemen stres, dan penggunaan meditasi yang tepat.
·      Pencegahan sekunder, meliputi pemeriksaan terhadap penderita tanpa gejala, dari awal penyakit hingga terjadi gejala penyakit belum tampak secara klinis dan mengidap faktor risiko. Jenis pelayanannya adalah kontrol hipertensi, deteksi dan pengobatan kanker, dan screening.
·      Pencegahan tersier, dilakukan sesudah terdapat gejala penyakit dan cacat; mencegah cacat bertambah dan ketergantungan; serta perawatan bertahap, tahap (1) perawatan di rumah sakit, (2) rehabilitasi pasien rawat jalan, dan (3) perawatan jangka panjang. Jenis pelayanannya adalah mencegah berkembangnya gejala dengan memfasilitasi rehabilitasi dan membatasi ketidakmampuan akibat kondisi kronis dan mendukung untuk mempertahankan kemampuan berfungsi.

3.    Diagnosis dini dan pengobatan
Diagnosis dini dapat dilakukan oleh lansia sendiri atau petugas profesional dan petugas institusi.
·      Oleh lansia sendiri
-       Tes diri
-       Skrining kesehatan
-       Memanfaatkan Kartu Menuju Sehat (KMS) lansia
-       Memanfaatkan Buku Kesehatan Pribadi (BKP)
-       Penandatanganan kontrak kesehatan
·      Oleh petugas profesional atau tim
-       Pemeriksaan status fisik (comprehensive geriatrive assesment)
-       Wawancara masalah masa lalu dan saat ini
-       Obat yang dimakan atau diminum
-       Riwayat keluarga atau lingkungan sosial
-       Kebiasaan merokok atau minum alkohol
-       Pemeriksaan fisik diagnostik
-       Skrining kesehatan
-       Pemeriksaan status kejiwaan
-       Pemeriksaan status terdiri atas kontak sosial, faktor ekonomi, penyesuaian diri, dan orang yang merawat lansia
-       Pemeriksaan status fungsi tubuh

Sedangkan upaya pengobatan bagi lansia adalah sebagai berikut :
·           Pengobatan terhadap gangguan sistem dan gejala yang terjadi
·           Terhadap manifestasi klinik
·           Terhadap masalah geriatric

4.    Pembatasan kecacatan
Kecacatan adalah kesulitan dalam memfungsikan kerangka, otot, dan sistem saraf. Penggolongannya berupa hal-hal di bawah ini :
·      Kecacatan sementara (dapat dikoreksi)
·      Kecacatan menetap (tak bisa dipulihkan, akan tetapi dapat disubstitusi dengan alat)
·      Kecacatan progresif (tak bisa pulih dan tidak bisa di substitusikan atau diganti)
·      Langkah-langkah yang dilakukan adalah pemeriksaan (assesment), identifikasi masalah (problem identification), perencanaan (planning), pelaksanaan (implementation), dan penilaian (evaluation).

5.    Rehabilitatif
·      Prinsip
-       Pertahankan lingkungan yang aman
-       Pertahankan kenyamanan, istirahat, aktivitas dan mobilitas
-       Pertahankan kecukupan gizi
-       Pertahankan pernapasan
-       Pertahankan fungsi aliran darah
-       Pertahankan kulit
-       Pertahankan fungsi pencernaan
-       Pertahankan fungsi saluran kemih
-       Meningkatkan fungsi psikososial
-       Pertahankan komunikasi
-       Mendorong pelaksanaan tugas
·      Pelaksana : tim rehabilitasi (petugas medis, petugas paramedis, serta petugas non medis)
·      Upaya rehabilitasi bagi lansia dengan penglihatan berkurang atau tidak melihat
-       Membaca dengan jarak yang sesuai menggunakan kaca pembesar atau kacamata baca yang cocok
-       Gambar dan tulisan difotokopi untuk diperbesar agar mudah terlihat atau terbaca
-       Lampu ruangan dan lampu baca dengan pencahayaan yang cukup terang
-       Belajar menggunakan tape recorder
·      Upaya rehabilitasi bagi lansia dengan pendengaran berkurang atau tidak mendengar
-       Membiasakan mendengar dan berbicara pada pertemuan dengan alat bantu pendengaran elektronik
-       Bel rumah yang dimodifikasi selain menggunakan bunyi juga ada lampu menyala tanda bel berbunyi
-       Menggunakan buku catatan sendiri untuk menulis pesan
·      Upaya rehabilitasi bagi lansia dengan keterbatasan pergerakan atau immobilisasi
-       Melatih jalan menggunakan tongkat dan kursi roda
-       Menggerakan kaki sebelum memasang sepatu
-       Mengajarkan cara duduk yang baik di kursi roda
-       Tempat mencuci di buat khusus
·      Upaya rehabilitasi bagi lansia dengan demensia
-       Jika ada yang lupa, maka ingatkan dan bantu lansia
-       Ingatkan hari, tanggal, dan tahun serta latih untuk mencoret hari yang lewat di kalender
-       Mencacat setiap pesan dan di dekat telepon harus ada buku catatan
-       Melatih mengingat dengan memperlihatkan album pada orang yang di kenal
Memperkenalkan keluarga kembali dan di ajak berkomunikasi

E.     Definisi osteoporosis
Penyakit osteoporosis merupakan kondisi penurunan masa tulang dan gangguan struktur tulang (perubahan mikroarsitektur jaringan tulang) sehingga tulang menjadi mudah patah. (Duque and Troen, 2006 dan Hughes, 2006). Penyakit osteoporosis adalah berkurangnya kepadatan tulang secara progresif, sehingga tulang menjadi rapuh dan mudah patah. Tulang terdiri mineral-mineral seperti calsium, fosfor, sehingga tulang menjadi keras dan padat, jika tubuh tidakmampu mengatur kandungan mineral dalam tulang maka tulang menjadi kurang padat dan lebih rapuh, sehingga terjadilah osteoporosis.
Osteoporosis sering juga disebut dengan “silent disease” karena penyakit ini dating tiba-tiba, tidak memiliki gejala yang jelas dan tidak terdeteksi sehingga orang tersebut mengalami patah tulang. (Nuhonni, 2000). Osteoporosis  sering menyerang mereka yang telah berusia lanjut. Menurut Departemen Kesehatan RI, wanita memiliki resiko osteoporosis lebih tinggi yaitu 21,7%, dibandingkan dengan laki-laki yang hanya berisiko terkena osteoporosis sebanyak 14,8%. Hal ini dikarenakan wanita mengalami proses kehamilan dan menyusui serta terjadinya penurunan hormon estrogen pada saat pre menopause, menopause, dan pasca menopause.
            Biasanya orang yang terkena osteoporosis akan mengalami sakit dan pegal-pegal dibagian punggung atau daerah tulang tersebut. Kemudian dalam beberapa hari atau minggu rasa sakit itu akan hilang sendiri dan tidak akan bertambah sakit menyebar jika mendapat beban yang berat. Biasanya postur tubuh orang yang menderita osteoporosis akan terlihat membungkuk dan terasa nyeri pada tulang yang mengalami kelainan tulang.

KLASIFIKASI OSTEOPOROSIS
Klasifikasi osteoporosis antara lain yaitu  
·         Osteoporosis Primer
Osteoporosis ini terdapat pada wanita pascamenopause (postmenopause osteoporosisi) dan pada laki-laki lanjut usia (senile osteoporosisi). Tipe I sering pada wanita pascamenopause, Tipe II sering pada usia senile >75 tahun baik pada laki-laki dan perempuan.


·         Osteoporosis sekunder
Dialami oleh kurang dari 5% penderita osteoporosis, yang disebabkan oleh keadaan medis lainnya atau oleh obat-obatan. Bisa disebabkan oleh gagal ginjal kronis dan kelainan hormonal (terutama tiroid, paratiroid dan adrenal) dan obat-obatan (kortikosteroid, barbiturate, anti kejang dan hormone tiroid yang berlebihan). Pemakaian alcohol yang berlebihan dan merokok memperburuk keadaan osteoporosis.

·         Osteoporosis idiopatik
Adalah tipe osteoporosisi primer yang jarang terjadi pada wanita premenopouse dan pada laki-laki yang berusia dibawah 75 tahun. Tipe ini tidak berkaitan dengan penyebab sekunder atau factor risiko yang mempermudah timbulnya penurunan densitas tulang.

F.     Patofisiologi osteoprosis pada lansia
Mineral tulang sebagai akibat terjadinya ketidakseimbangan proses penyerapan oleh sel osteoklas dengan pembentukan tulang oleh sel osteoblast. Tulang, seperti jaringan tubuh lainnya merupakan jaringan ikat yang dinamik dalam arti metabolisme pembentukan dan penyerapan tulang yang dinamakan bone remodelling yang merupakan fungsi 2 sel tulang yaitu osteoblast dan osteoklast.
Dalam masa pertumbuhan, bone remodelling atau bone turn over bergeser ke arah pembentukan. Pada umumnya pertumbuhan tulang manusia lengkap pada usia 30 tahun, selain itu tulang diperbarui dengan lingkaran remodelling dimana sel-sel yang terdapat digantikan oleh osteoklast yang disebut bone resorbtion cell sehingga setelah beberapa hari terbentuk beberapa rongga resorbsi kemudian osteoklast akan digantikan oleh osteoblast atau disebut juga bone reforming cell yang mengsintesa beberapa growth factor (insuline like growth factor I dan II) disertai perubahan growth factor beta yang merangsang proliferasi osteoblast dan akhirnya osteoblast mengisi rongga mengisi rongga resorbsi setelah beberapa minggu.
Densitas mineral tulang menurun bila osteoklast membentuk suatu rongga yang abnormal sehingga tulang kehilangan trabekularnya. Ini terjadi pada periode pasca menopouse. Selain itu massa tulang hilang bila osteoblast gagal mengisi rongga resorbsi sehingga terlihat sebagai penipisan trabekula yang tampak pada usia tua. Remodelling tulang secara primer diatur oleh hormon parathyroid dan kalsitrol.
Osteoporosis terjadi oleh karena hasil abnormal dari proses remodelling tulang diamana resorbsi tulang melampaui pembentukan tulang. Osteoblast merupakan sel pembentuk tulang yang memproduksi kolagen (umumnya tipe I) serta komponen non kolagen dari matriks tulang. Osteoklast mempunyai peranan yang penting dalam memineralisasi matriks organik. Osteoklast adalah sel yang mempunyai peranan yang dalam meresorbsi tulang. Osteoblast dan osteoklast dikontrol oleh hormon-hormon sistemik dan sitokin serta faktor-faktor lokal prostaglandin, PTH, kalsitonin, estrogene dan 1,25 dhydroxyvitamin D3 (calcitrol), one alpha. Tulang mencapai puncak kepadatan pada usia dekade ke 3 dan osteoporosis bermula dengan kehilangan massa tulang secara diam-diam dengan pengurangan kepadatan.

G.    Etiologi Osteoporosis
·         Menopause
Pada menopause terjadi penurunan estrogen padahal estrogen berguna untuk mencegah resorpsi tulang, selain itu juga terjadi penurunan aktivitas tubuh dan penurunan sekresi parathormon.
·         Penurunan kadar kalsitonin
Kalsitonin berguna untuk menekan aktivitas osteoklas. Pada usia lanjut terjadi penurunan kadar kalsitonin.
·         Penurunan kadar androgen adrenal
·         Aktivitas fisik
Adanya imobilisasi lama yang mengakibatkan penurunan masa tulang.
·         Penurunan absorpsi kalsium
Seiring pertambahan usia terjadi penurunan penyerapan kalsium tubuh.

H.    Tanda dan Gejala
Gejala-gejala baru timbul pada tahap osteoporosis, seperti:
·         patah tulang
·         punggung yang semakin membungkuk
·         hilangnya tinggi badan
·         nyeri punggung

Jika kepadatan tulang sangat berkurang sehingga tulang menjadi hancur, maka akan timbul nyeri tulang dan kelainan bentuk. Hancurnya tulang belakang menyebabkan nyeri punggung menahun. Tulang belakang yang rapuh bisa mengalami hancur secara spontan atau karena cedera ringan. Biasanya nyeri timbul secara tiba-tiba dan dirasakan di daerah tertentu dari punggung, yang akan bertambah nyeri jika penderita berdiri atau berjalan. Jika disentuh, daerah tersebut akan terasa sakit, tetapi biasanya rasa sakit ini akan menghilang secara bertahap setelah beberapa minggu atau beberapa bulan. Jika beberapa tulang belakang hancur, maka akan terbentuk kelengkungan yang abnormal dari tulang belakang (punuk Dowager), yang menyebabkan ketegangan otot dan sakit. Tulang lainnya bisa patah, yang seringkali disebabkan oleh tekanan yang ringan atau karena jatuh. Salah satu patah tulang yang paling serius adalah patah tulang panggul. Hal yang juga sering terjadi adalah patah tulang lengan (radius) di daerah persambungannya dengan pergelangan tangan, yang disebut fraktur Colles. Selain itu, pada penderita osteoporosis, patah tulang cenderung menyembuh secara perlahan.

I.       Faktor resiko osteoporosis pada lansia
·         Wanita
Osteoporosis lebih banyak terjadi pada wanita. Hal ini disebabkan pengaruh hormon estrogen yang mulai menurun kadarnya dalam tubuh sejak usia 35 tahun. Wanita pascamenopause, yang mengalami kehilangan kepadatan tulang secara pelan tapi secara terus menerus terjadi, adalah salah satu kelompok dengan risiko tinggi osteoporosis pula. Pada wanita hamil juga sangat berisiko, karena proses pembentukan janin membutuhkan banyak kalsium.
·         Usia
Seiring dengan pertambahan usia, fungsi organ tubuh justru menurun. Pada usia 75-85 tahun, wanita memiliki risiko 2 kali lipat dibandingkan pria dalam mengalami kehilangan tulang trabekular karena proses penuaan, penyerapan kalsium menurun dan fungsi hormon paratiroid meningkat.



·         Ras/Suku
Ras juga membuat perbedaan dimana ras kulit putih atau keturunan asia memiliki risiko terbesar. Hal ini disebabkan secara umum konsumsi kalsium wanita asia rendah. Salah satu alasannya adalah sekitar 90% intoleransi laktosa dan menghindari produk dari hewan. Pria dan wanita kulit hitam dan hispanik memiliki risiko yang signifikan meskipun rendah.

·         Keturunan Penderita Osteoporosis
Jika ada anggota keluarga yang menderita osteoporosis, maka berhati-hatilah. Osteoporosis menyerang penderita dengan karakteristik tulang tertentu. Seperti kesamaan perawakan dan bentuk tulang tubuh. Itu artinya dalam garis keluarga pasti punya struktur genetik tulang yang sama.

·         Gaya Hidup Kurang Baik
Konsumsi daging merah dan minuman bersoda, karena keduanya mengandung fosfor yang merangsang pembentukan horman parathyroid, penyebab pelepasan kalsium dari dalam darah.

·         Minuman Berkafein dan Beralkohol
Minuman berkafein seperti kopi dan alkohol juga dapat menimbulkan tulang keropos, rapuh dan rusak. Hal ini disebabkan kafein dan alcohol menghambat proses pembentukan massa tulang(osteoblas) karena kafein dan alcohol bersifat toksin bagi tubuh. Akibatnya, kalsium untuk membentuk tulang terbuang bersama dengan air seni.

·         Malas Olahraga
Malas bergerak atau olahraga akan menghambat proses osteoblasnya (proses pembentukan massa tulang). Selain itu kepadatan massa tulang akan berkurang. Semakin banyak gerak dan olahraga maka otot akan memacu tulang untuk membentuk massa.

·         Merokok         
Ternyata rokok dapat meningkatkan risiko penyakit osteoporosis. Perokok sangat rentan terkena osteoporosis, karena zat nikotin di dalamnya mempercepat penyerapan tulang. Selain penyerapan tulang, nikotin juga membuat kadar dan aktivitas hormon estrogen dalam tubuh berkurang sehingga susunan-susunan sel tulang tidak kuat dalam menghadapi proses pelapukan.

·         Kurang Kalsium
Jika kalsium tubuh kurang maka tubuh akan mengeluarkan hormon yang akan mengambil kalsium dari bagian tubuh lain, termasuk yang ada di tulang.

·         Mengkonsumsi Obat
Obat kortikosteroid yang sering digunakan sebagai anti peradangan pada penyakit asma dan alergi ternyata menyebabkan risiko penyakit osteoporosis. Jika sering dikonsumsi dalam jumlah tinggi akan mengurangi massa tulang. Sebab, kortikosteroid menghambat proses osteoblas. Selain itu, obat heparin dan antikejang juga menyebabkan penyakit osteoporosis. Konsultasikan ke dokter sebelum mengkonsumsi obat jenis ini agar dosisnya tepat dan tidak merugikan tulang.

·         Kurus dan Mungil
Perawakan kurus dan mungil memiliki bobot tubuh cenderung ringan misal kurang dari 57 kg, padahal tulang akan giat membentuk sel asal ditekan oleh bobot yang berat. Karena posisi tulang menyangga bobot maka tulang akan terangsang untuk membentuk massa pada area tersebut, terutama pada derah pinggul dan panggul. Jika bobot tubuh ringan maka massa tulang cenderung kurang terbentuk sempurna.

·         Stres
Kondisi stres akan meningkatkan produksi hormon stres yaitu kortisol yang diproduksi oleh kelenjar adrenal. Kadar hormon kortisol yang tinggi akan meningkatkan pelepasan kalsium kedalam peredaran darah dan akan menyebabkan tulang menjadi rapuh dan keropos sehingga meningkatkan terjadinya osteoporosis.


·         Bahan kimia
Bahan kimia seperti pestisida yang dapat ditemukan dalam bahan makanan (sayuran dan buah-buahan), asap bahan bakar kendaraan bermotor, dan limbah industri seperti organoklorida yang dibuang sembarangan di sungai dan tanah, dapat merusak sel-sel tubuh termasuk tulang. Ini membuat daya tahan tubuh menurun dan membuat pengeroposan tulang.

J.      Upaya pencegahan dan pengobatan osteoporosis pada lansia
1.         Pencegahan
·       Asupan Kalsium
Asupan kalsium yang cukup tidak hanya diperlukan untuk membangun tulang yang kuat, namun juga diperlukan untuk proses lain dalam tubuh seperti denyut jantung, pembekuan darah, ataupun kekuatan otot. Apabila asupan kalsium itu tidak cukup maka kalsium akan ditarik dari tulang agar proses lain di atas yang lebih penting dapat berjalan.
Berapa banyak kecukupan asupan kalsium sehari sangat tergantung pada usia, jenis kelamin, dan resiko untuk terjadinya OP. Umumnya kebutuhan tersebut berkisar antara 1000 – 1500 mg/hari. Pada remaja atau ibu hamil dan menyusui dianjurkan besarnya asupan kalsium sekitar 1500 mg/hari. Demikian pula bila usai telah melampaui 50 tahun, maka asupan sebesar 1500 mg/hari. Telah diketahui pada usia lanjut penyerapan kalsium kurang baik dibandingkan remaja atau usia dewasa.
Apabila Anda kurang mendapatkan paparan sianar matahari, maka tambahan vitamin D (400 – 800 IU/hari) diperlukan agar penyerapan kalsium di usus lebih baik. Sumber alamiah kalsium adalah makanan. Untuk ini sebaiknya mengkonsumsi makanan yang mengandung susu atau olahan dari susu seperti susu murni atau susu rendah lemak, keju atau yogurt. Beberapa jenis makanan berikut ini cukup kaya mengandung kalsium yaitu: sayuran hijau, ikan sardin, kerang, kacang brazil, tofu, biji almond, dan roti atau biji-bijian (sereal) serta jus jeruk yang diperkaya dengan kalsium.
Tablet kalsium atau dalam bentuk cairan dapat dipakai sebagai pengganti apabila Anda tidak suka minum susu atau makan keju. Perlu diingat bahwa suplemen kalsium ini dikonsumsi saat Anda makan. Dianjurkan pula untuk minum setidaknya 6 – 8 gelas perhari.

·       Hindari Merokok
Merokok dapat menurunkan kepadatan masa tulang, penurunan berat badan, lebih cepatnya seorang wanita mengalami henti haid karena kadar hormon wanita (estrogen) menurun. Hal tersebut akan menyebabkan peningkatan resiko patah tulang.

·       Hindari Minuman Beralkohol
Mengkonsumsi minuman beralkohol akan menyebabkan kehilangan masa tulang lebih cepat serta kepadatan masa tulang yang lebih rendah. Apabila Anda mabuk, maka kesempatan untuk jatuh dan mengalami patah tulang menjadi lebih besar.

·       Olahraga dan Tetap Aktif
Olahraga pembebanan berat tubuh pada tulang akan menyebabkan tulang tersebut menjadi lebih padat. Olahraga aerobik, menari, lari-lari kecil, lintas alam, naik tangga, tenis, jalan kaki adalah beberapa contoh kegiatan fisik yang mampu membantu tercapainya kepadatan tulang yang lebih baik. Berapa lama Anda harus latihan olahraga ini sangat bergantung keadaan jantung Anda, bukan keadaan tulang Anda. Belum ada patokan berapa lama Anda harus olahraga karena sangat tergantung pada kondisi fisik seseorang. Sebagai prakiraan dapat dipakai batasan waktu 30 menit setiap kali latihan sesering mungkin dalam satu minggu.

2.         Pengobatan
Banyak cara atau obat yang dapat digunakan. Misalnya meningkatkan asupan kalsium, melakukan latihan fisik secara teratur, mempertahankan gaya hidup sehat untuk tulang dan terapi herbal. Obat-obatan digunakan untuk mencegah kehilangan masa tulang atau mengobati OP sehingga mencegah resiko patah tulang, adalah hormon estrogen, Bisfosfonat, Calsitonin, Calcitrol, Raloxifen dsb.
Apabila telah terjadi patah tulang, maka perlu dilakukan pembedahan untuk memperbaiki tulang yang patah dan mengembalikan fungsi dari tulang atau persendian yang bersangkutan dengan tulang yang patah tersebut. Tindakan terapi fisik atau awam mengenalnya sebagai fisioterapi, diperlukan untuk mempercepat kembalinya fungsi dari anggota tubuh dimana terdapat tulang yang patah, misalnya latihan penguatan otot paha bila terjadi patah tulang bonggol paha.


BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Lansia adalah kelompok penduduk yang berusia 60 tahun atau lebih. Seiring dengan bertambahnya usia, banyak kemunduran yang terjadi pada lansia baik fisik, sosial, atau pun psikologi. Dengan adanya kemunduran beberapa fungsi, perlu adanya perhatian khusus dan penanganan pada lansia secara menyeluruh baik aspek preventif, promotif, kuratif dan rehabilitatif. Selain itu, lansia juga sangat erat kaitannya dengan penyakit degeneratif, salah satunya yaitu osteoporosis.
Osteoporosis merupakan kondisi penurunan masa tulang dan gangguan struktur tulang (perubahan mikroarsitektur jaringan tulang) sehingga tulang menjadi mudah patah. Biasanya orang yang terkena osteoporosis akan mengalami sakit dan pegal-pegal dibagian punggung atau daerah tulang tersebut. Osteoporosis dibagi menjadi osteoporosis primer, sekunder dan idiopatik. Osteoporosis terjadi oleh karena hasil abnormal dari proses remodelling tulang diamana resorbsi tulang melampaui pembentukan tulang. Faktor resiko yang berpengaruh dengan penyakit osteoporosis diantaranya yaitu, usia, wanita, ras/suku, kebiasaan hidup dan aktifitas fisik, keturunan, kekurangan kalsium dan stres.

B.     Saran
Dalam penanganan lansia perlu adanya perhatian dan perlakuan khusus agar lansia dapat menjalani hari-hari tuanya dengan sehat dan bahagia. Untuk mencegah resiko lansia mengalami osteoporosis, perlu adanya pencegahan sejak dini dengan cara memperbanyak aktivitas fisik seperti olah raga, menjaga pola hidup yang sehat, menghindari minuman beralkohol dan berkafein, serta mencukupi kebutuhan kalsium.





DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2007 Kebutuhan Nutrisi Pada Lansia
Bustan, M.N. 2007. Epidemiologi Penyakit Tidak Menular. Jakarta : Rineka Cipta
Depkes. 2004. “Kecendrungan Osteoporosis di Indonesia 6 Kali Lebih Tinggi Dibanding Negeri Belanda” [Online]. www.depkes.go.id. (diakses 13 Maret 2013)
Maryam, Siti R dkk. 2011. Mengenal Usia Lanjut dan Perawatannya. Jakarta : Salemba Medika
Permatasari, Defitaria dkk. 2012. Hubungan Aktivitas Fisik dan Terjadinya Osteoporosis pada Wanita Pascamenopause di Poliklinik Bedah Tulang RSUD Dokter Soedarso Pontianak. Kalimantan Barat
Simanullang, Poniyah. 2012. Pengaruh Gaya Hidup Terhadap Status Kesehatan Lanjut Usia (Lansia) di Wilayah Kerja Puskesmas Darusalam Medan, Artikel Ilmiah. Medan
Utomo, Margo dkk. 2010. Jurnal Kesehatan Masyarakat Indonesia, “Faktor-faktor yang berhubungan dengan kepadatan tulang pada wanita pasca menopause”. Universitas Muhammadiyah Semarang
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar